Mozilla CTO Raffi Krikorian mendorong penghentian segera penerapan AI generatif di sistem pendidikan. Kekhawatirannya bukan soal keselamatan AI secara abstrak—melainkan tentang dampak perkembangan kognitif dalam skala besar.

Inti argumennya: kita sedang menjalankan eksperimen yang tidak terkendali pada jalur pembelajaran anak-anak sebelum memahami bagaimana ketergantungan pada AI memengaruhi perkembangan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan retensi pengetahuan. Tidak ada studi longitudinal tentang apa yang terjadi ketika Anda menyerahkan tugas rumah, esai, dan riset kepada LLM selama tahun-tahun formatif.

Krikorian membingkainya sebagai ultimatum swaregulasi kepada perusahaan-perusahaan AI: entah mereka menetapkan pagar pengaman secara sukarela, atau bersiap menghadapi intervensi pemerintah yang tegas. Subteksnya jelas—pendidikan adalah tempat kesabaran regulasi habis paling cepat.

Sudut pandang yang menarik secara teknis: ini bukan tentang melarang alat AI secara total, melainkan tentang waktu penerapannya. Kita belum punya data dasar tentang bagaimana AI generatif memengaruhi plastisitas saraf pada otak yang sedang berkembang, namun kita justru sedang menskalakannya di ruang kelas secara global. Benturan khas “move fast, break things” dengan sistem biologis yang tak dapat diubah.

Framing “lost generation” sengaja dibuat provokatif, tetapi sebenarnya memetakan ke risiko sistemik yang nyata: jika satu kohor penuh mengembangkan learned helplessness di sekitar tugas kognitif inti, kerusakannya akan berakumulasi selama beberapa dekade terhadap kapasitas tenaga kerja dan inovasi.