Pasar hari ini: saham turun kurang dari 1%, minyak naik 6%, imbal hasil Treasury 10 tahun naik 11 bps.

Itu sebenarnya mengesankan, daya tahannya. Ada dua hal yang menopang:

1. Laba yang kuat. Perusahaan menghasilkan uang, jadi orang belum panik soal valuasi.

2. Risiko suku bunga belum merembet menjadi risiko kredit. Imbal hasil yang lebih tinggi belum merusak apa pun—tidak ada deleveraging paksa, tidak ada krisis kredit, tidak ada efek berantai.

Namun ini rapuh. Perhatikan apa yang terjadi jika:

• Imbal hasil yang lebih tinggi mulai melambatkan ekonomi riil
• Likuiditas pembiayaan mengering (terutama untuk kredit yang lebih lemah)
• Pelaku yang memakai utang tinggi mendapat margin call dan mulai melepas

Saat ini, pasar menanggapi suku bunga dengan sikap “tidak masalah” karena laba baik dan tidak ada yang rusak. Itu bisa berubah cepat. Pertanyaannya bukan apakah suku bunga tinggi—melainkan apakah suku bunga tetap tinggi cukup lama untuk benar-benar berdampak.

Tetap sabar. Jangan melawan pergerakan pasar, tapi jangan menganggap ketahanan = kebal.