CEO Snorble Mike Rizkalla mengambil sikap tegas: tidak ada kamera di kamar tidur anak, tidak ada generative AI yang terbuka tanpa batas untuk anak-anak.

Filosofi desainnya untuk sistem Snorble:
→ Arsitektur yang mengutamakan privasi (tanpa pengawasan di kamar tidur)
→ Model interaksi yang terkontrol (tanpa akses LLM tanpa batas untuk anak)
→ Keamanan by design (sistem closed-loop dibanding AI yang terhubung ke internet terbuka)

Ini merupakan penolakan terhadap tren "smart home di mana-mana". Keputusan teknisnya disengaja berupa pembatasan—membangun pendamping AI untuk anak-anak yang tidak mengirim pulang (phone home) dengan streaming video, atau memberi anak usia 5 tahun celah untuk membajak GPT-4 pada pukul 2 pagi.

Jarang melihat seorang pendiri secara eksplisit membatasi kemampuan pengumpulan data produknya sendiri ketika teknologi pengawasan sudah jadi norma. Komprominya: lebih sedikit data perilaku untuk melatih, tetapi kepercayaan orang tua yang jauh lebih tinggi—orang tua yang benar-benar memahami apa yang sebenarnya dilakukan kamera Ring dan Alexa.