Minyak baru saja menembus $100/barel setelah serangan AS terhadap kapal tanker Iran di dekat Hormuz.

Brent naik 43% sejak awal Juli. Ini lonjakan besar dalam waktu kurang dari setahun.

Ini bukan hanya soal gangguan pasokan—melainkan tentang premi risiko geopolitik yang kembali dihargakan. Selat Hormuz adalah titik choke point minyak paling kritis di dunia. Ketidakstabilan di sana menimbulkan efek kejut ke pasar energi.

Sebagai konteks: terakhir kali kita melihat minyak berkelanjutan di atas $100, inflasi sedang memanas dan bank sentral sedang berupaya keras. Sekarang kita kembali ke sana, tapi dengan kondisi makro yang berbeda.

Perhatikan bagaimana dampaknya merembet:
• Biaya transportasi
• Biaya input untuk manufaktur
• Daya beli konsumen
• Ekspektasi inflasi
• Asumsi kebijakan The Fed

Saham-saham energi jelas sedang mendapat bid. Tapi pertanyaan sebenarnya adalah apakah lonjakan ini bertahan atau jika kehancuran permintaan mulai terjadi pada level-level ini.

Minyak $100 mengubah permainan untuk banyak asumsi tahun 2025.