Meskipun saham-saham terkait AI menghadapi tekanan karena meningkatnya kontroversi soal pusat data, kepala riset Fundstrat, Tom Lee, tetap optimistis terhadap prospek AI jangka panjang, dengan menyatakan bahwa kemajuan teknologi "terus berjalan dengan kecepatan pesat."
Baru-baru ini, kekhawatiran atas belanja AI besar-besaran oleh raksasa teknologi telah memicu volatilitas pasar. Investor seperti Michael Burry telah membandingkan investasi infrastruktur AI dengan "utang tersembunyi bergaya Enron", dengan menyoroti bahwa sembilan perusahaan teknologi besar memiliki sekitar $3 triliun dalam komitmen di luar neraca, yang mencakup pembelian chip, kontrak energi, dan fasilitas pusat data yang belum disewakan.
Tom Lee melihatnya secara berbeda. Ia berpendapat bahwa sebagian besar apa yang disebut "liabilitas di luar neraca" tersebut adalah komitmen untuk pembangunan dan pengadaan di masa depan, bukan utang sebenarnya yang sudah terlanjur terjadi. Perbedaan utamanya:
💰 Siapa yang belanja: Saat gelembung dot-com tahun 2000, sebagian besar perusahaan mengandalkan pembiayaan eksternal untuk melakukan ekspansi. Saat ini, para pengeluaran modal terbesar di bidang AI adalah raksasa arus kas global seperti Google, Amazon, Meta, dan Microsoft.
📊 Adopsi AI masih dini: Saat ini, sekitar 56% perusahaan sudah mulai menggunakan AI, tetapi hanya sekitar 7% yang telah mencapai integrasi bisnis secara mendalam — menyisakan ruang pertumbuhan yang sangat besar.
🏗️ Kontroversi pusat data: Maine baru-baru ini mengesahkan undang-undang yang melarang pusat data baru berkapasitas di atas 20MW, dan setidaknya 12 negara bagian lain mendorong legislasi serupa, yang mencerminkan meningkatnya penolakan publik. Namun, hal itu belum menggoyahkan keyakinan Lee pada tren AI jangka panjang.
Untuk pasar kripto, Lee tetap mempertahankan sikap yang sama bullishnya. Ia sebelumnya memprediksi di Binance Blockchain Week bahwa Ethereum (ETH) bisa mencapai $62.000**, dengan Bitcoin (BTC) menargetkan **$250.000**, didorong oleh tokenisasi aset dan adopsi institusional yang semakin cepat.
Lee menyoroti bahwa kunci untuk memulihkan kepercayaan pada AI terletak pada kemampuan CEO NVIDIA Jensen Huang untuk membuktikan, dalam acara-acara mendatang, bahwa permintaan komputasi AI tetap kuat. Hal ini dapat membantu sektor AI menembus fase konsolidasinya, dan juga bisa memengaruhi pandangan teknikal untuk BTC serta pasar kripto yang lebih luas.
