September telah lama menjadi salah satu bulan terlemah bagi ekuitas AS. Dalam 50 tahun terakhir, S&P 500 mencatat imbal hasil September rata-rata sekitar -0,8%, sementara data jangka panjang juga menunjukkan September sebagai bulan dengan performa terburuk.

Beberapa faktor dapat berkontribusi: penyeimbangan ulang portofolio menjelang akhir kuartal, pengambilan keuntungan setelah kenaikan musim panas, dan investor kembali dari liburan untuk menilai ulang risiko. Pada 2026, ada faktor lain yang turut berperan: pemilihan umum paruh waktu (midterm) AS. Tahun pemilu tidak menjamin penurunan, tetapi ketidakpastian kebijakan dapat meningkatkan volatilitas dan mendorong investor untuk mengurangi risiko.

Bitcoin menunjukkan pola musiman yang serupa. Dari 2017 hingga 2022, BTC mencatat imbal hasil September negatif selama enam tahun berturut-turut. Namun, polanya belakangan ini melemah: 2023, 2024, dan 2025 semuanya menutup September dengan wilayah positif.

Karena itulah 2026 seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai “September berarti jual.” Pertanyaan kuncinya adalah apakah koreksi musiman berkembang menjadi pergeseran risiko yang lebih luas ke mode risk-off. Investor perlu memantau saham AS, imbal hasil Treasury, ekspektasi The Fed, arus masuk ETF, dan permintaan spot BTC. Jika sentimen risk-off menyebar lintas pasar, Bitcoin bisa mendapat tekanan. Namun jika permintaan ETF dan spot tetap kuat, pola September lama bisa melemah lagi.

Ditulis oleh XWIN Jepang