Data terbaru Departemen Keuangan AS tahun 2026: peringkat 20 negara/wilayah dengan kepemilikan obligasi pemerintah AS (US Treasury) terbesar di dunia.

Jepang bertahan di posisi pertama dengan $1,1 triliun, Inggris menyusul dengan $940 miliar, dan Tiongkok berada di urutan ketiga dengan $633 miliar.

Beberapa poin yang patut dicatat:

1. Tiongkok, yang dulu menjadi pemegang terbesar, kini turun ke peringkat ketiga. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok terus mengurangi kepemilikan, tetapi ukuran $633 miliar tetap sangat besar—ini menunjukkan bahwa "de-dollarization" adalah proses yang lambat, bukan sesuatu yang bisa dibereskan dengan sekali tebas.
2. Belgia dengan $483 miliar berada di peringkat keempat. Angka ini sudah lama diperdebatkan; pasar umumnya menduga sebagian kepemilikan berasal dari negara lain yang memegang obligasi AS melalui jalur kliring (penyelesaian) di Belgia.
3. Kepulauan Cayman dengan $453 miliar berada di peringkat keenam. Di baliknya, kemungkinan besar adalah kepemilikan obligasi AS dari dana lindung nilai (hedge fund) dan lembaga pengelola aset lepas pantai.
4. Taiwan, Tiongkok, dengan $30,3 miliar berada di peringkat kesepuluh, dan Hong Kong SAR dengan $25,6 miliar di peringkat ketiga belas. Jika digabung, totalnya mendekati $560 miliar.

Bagi pasar kripto, sinyal utama dari bagan ini bukanlah siapa membeli berapa banyak obligasi AS, melainkan struktur penempatan dana global pada aset dolar masih sangat terkonsentrasi. Selama obligasi AS masih menjadi kolam penampung likuiditas terbesar di dunia, kendali penentuan harga untuk aset berisiko masih berada di dalam sistem dolar. Agar BTC benar-benar lepas dari narasi dolar, harus menunggu sampai ketergantungan struktural ini muncul celah yang terlihat jelas—dan saat ini, belum sampai tahap itu.