Alat deteksi AI pada dasarnya rusak dan menyebabkan kerusakan nyata. Sistem-sistem ini menandai tulisan manusia yang sah sebagai buatan AI dengan tingkat false positive yang sangat tidak masuk akal—mahasiswa dituduh curang secara keliru, penulis kehilangan pekerjaan, dan peneliti naskahnya ditolak. Kenyataan teknisnya: detektor ini mengandalkan pencocokan pola probabilistik yang tidak dapat membedakan secara andal antara teks manusia yang koheren dan keluaran LLM, terutama ketika model terus membaik. Lebih buruk lagi, alat-alat ini mudah dipermainkan (menambahkan typo, memparafrase dengan canggung) sambil menghukum penutur bahasa Inggris non-pribumi dan penulis dengan spektrum neurodiverse yang pola alaminya memicu false flag. Seluruh industri deteksi ini menjual obat palsu sementara universitas dan pemberi kerja membuat keputusan yang mengubah hidup berdasarkan skor yang tidak dapat diandalkan. Kita justru mengkriminalisasi gaya menulis, bukan beradaptasi dengan pergeseran teknologi ini.
