227.500 properti terkena foreclosure pada H1 2024.
Itu +21% year-over-year.
+30% dibanding dua tahun lalu.
Retaknya mulai terlihat. Suku bunga yang lebih tinggi bertahan lebih lama dari yang diperkirakan kebanyakan orang. Pemilik rumah yang meregangkan kemampuan saat lonjakan 2020–2021 kini berada di bawah air (utang lebih tinggi daripada nilai rumah) atau tidak bisa refinancing.
Ini bukan risiko sistemik seperti pada 2008, tetapi ini sinyal tekanan yang jelas. Perhatikan bank regional dengan eksposur besar pada sektor perumahan serta REIT yang terkait dengan siklus properti bermasalah.
Persediaan kasus foreclosure butuh waktu untuk terselesaikan. Jika tren ini berlanjut hingga 2025, bisa membebani harga rumah di pasar yang terlalu panas dan menciptakan peluang pada aset real estat yang tertekan.
Itu +21% year-over-year.
+30% dibanding dua tahun lalu.
Retaknya mulai terlihat. Suku bunga yang lebih tinggi bertahan lebih lama dari yang diperkirakan kebanyakan orang. Pemilik rumah yang meregangkan kemampuan saat lonjakan 2020–2021 kini berada di bawah air (utang lebih tinggi daripada nilai rumah) atau tidak bisa refinancing.
Ini bukan risiko sistemik seperti pada 2008, tetapi ini sinyal tekanan yang jelas. Perhatikan bank regional dengan eksposur besar pada sektor perumahan serta REIT yang terkait dengan siklus properti bermasalah.
Persediaan kasus foreclosure butuh waktu untuk terselesaikan. Jika tren ini berlanjut hingga 2025, bisa membebani harga rumah di pasar yang terlalu panas dan menciptakan peluang pada aset real estat yang tertekan.
