#termmax @TermMax
Dulu saat melihat produk fixed income, yang paling mudah “menarik” saya adalah angka annualized di baris pertama homepage. Semakin mencolok angkanya, semakin besar dorongan tangan untuk langsung mengeklik dan memastikan. Setelah meneliti @TermMax , saya menambahkan satu aturan untuk diri saya sendiri: pecah dulu imbal hasil menjadi sebuah tagihan, lalu putuskan apakah perlu masuk.
Misalnya, saya membeli sekelompok FT dengan USDC senilai 1000. Harga eksekusinya 0,98, dan saat jatuh tempo dinilai 1. Jika saya memegang sampai jatuh tempo, estimasi laba kotor di kertas sebesar 20 USDC. Ini hanya contoh algoritme, bukan harga pasar TermMax saat ini. Setelah itu, masih perlu dipotong biaya on-chain yang timbul dari pembelian, otorisasi, dan penebusan (redeem). Jika nominalnya kecil, beberapa kali Gas bisa jadi porsinya lebih “terlihat” daripada yang dibayangkan.
Saya juga menambahkan bagian pada tagihan ini yang berjudul “menggunakan uang lebih cepat (early use)”. Imbal hasil tetap FT dibangun dengan asumsi kepemilikan sampai jatuh tempo dan proses penukaran berjalan normal. Kalau diperdagangkan di tengah jalan, harga eksekusinya akan bergantung pada suku bunga saat itu, sisa tenor, dan kedalaman pasar. Annualized yang ditampilkan di halaman memang tidak berubah, tetapi kenyataannya yang bisa masuk ke tangan bisa saja berkurang oleh slippage dan diskon. Yang dikunci oleh TermMax adalah harga berdasarkan tenor setelah transaksi dilakukan—rencana dana di dompet tetap harus saya tanggung sendiri.
Sekarang, ketika saya melihat TermMax, saya mencatat empat angka berurutan: berapa biaya untuk membeli FT, berapa yang bisa ditebus saat jatuh tempo, total biaya on-chain untuk operasi yang lengkap, dan kira-kira berapa “harga” yang harus dilepas jika keluar lebih awal. Dua angka pertama membentuk laba kotor, sedangkan dua angka terakhir menentukan laba bersih. Jika salah satu dihitung terlalu rendah, APR yang terlihat cantik pun bisa jadi menyesatkan.
Metode ini juga membantu saya menghindari satu kebiasaan: demi menambah beberapa poin annualized, memasukkan uang yang sebenarnya akan dipakai dalam waktu dekat ke tenor yang lebih panjang. Semakin panjang tenornya, semakin harus ada ruang cadangan dalam pengaturan dana. Saya lebih memilih mendapat lebih sedikit, daripada ketika uang mendadak dibutuhkan, saya terpaksa menjual FT di pasar yang tipis.
TermMax menyediakan arus kas yang bisa dihitung lebih dulu, tapi perhitungan tidak boleh berhenti di halaman depan. Saya berencana menyimpan hasil bersih setelah biaya dari setiap transaksi, lalu membandingkan performa aktual di berbagai tenor. Bagi saya, laba bersih yang benar-benar bisa masuk ke dompet lebih bernilai daripada sekadar annualized tertinggi di screenshot. 🙂
Saat Anda melihat fixed income di TermMax, apakah Anda ikut menghitung Gas dan biaya untuk keluar lebih awal sekaligus?
Dulu saat melihat produk fixed income, yang paling mudah “menarik” saya adalah angka annualized di baris pertama homepage. Semakin mencolok angkanya, semakin besar dorongan tangan untuk langsung mengeklik dan memastikan. Setelah meneliti @TermMax , saya menambahkan satu aturan untuk diri saya sendiri: pecah dulu imbal hasil menjadi sebuah tagihan, lalu putuskan apakah perlu masuk.
Misalnya, saya membeli sekelompok FT dengan USDC senilai 1000. Harga eksekusinya 0,98, dan saat jatuh tempo dinilai 1. Jika saya memegang sampai jatuh tempo, estimasi laba kotor di kertas sebesar 20 USDC. Ini hanya contoh algoritme, bukan harga pasar TermMax saat ini. Setelah itu, masih perlu dipotong biaya on-chain yang timbul dari pembelian, otorisasi, dan penebusan (redeem). Jika nominalnya kecil, beberapa kali Gas bisa jadi porsinya lebih “terlihat” daripada yang dibayangkan.
Saya juga menambahkan bagian pada tagihan ini yang berjudul “menggunakan uang lebih cepat (early use)”. Imbal hasil tetap FT dibangun dengan asumsi kepemilikan sampai jatuh tempo dan proses penukaran berjalan normal. Kalau diperdagangkan di tengah jalan, harga eksekusinya akan bergantung pada suku bunga saat itu, sisa tenor, dan kedalaman pasar. Annualized yang ditampilkan di halaman memang tidak berubah, tetapi kenyataannya yang bisa masuk ke tangan bisa saja berkurang oleh slippage dan diskon. Yang dikunci oleh TermMax adalah harga berdasarkan tenor setelah transaksi dilakukan—rencana dana di dompet tetap harus saya tanggung sendiri.
Sekarang, ketika saya melihat TermMax, saya mencatat empat angka berurutan: berapa biaya untuk membeli FT, berapa yang bisa ditebus saat jatuh tempo, total biaya on-chain untuk operasi yang lengkap, dan kira-kira berapa “harga” yang harus dilepas jika keluar lebih awal. Dua angka pertama membentuk laba kotor, sedangkan dua angka terakhir menentukan laba bersih. Jika salah satu dihitung terlalu rendah, APR yang terlihat cantik pun bisa jadi menyesatkan.
Metode ini juga membantu saya menghindari satu kebiasaan: demi menambah beberapa poin annualized, memasukkan uang yang sebenarnya akan dipakai dalam waktu dekat ke tenor yang lebih panjang. Semakin panjang tenornya, semakin harus ada ruang cadangan dalam pengaturan dana. Saya lebih memilih mendapat lebih sedikit, daripada ketika uang mendadak dibutuhkan, saya terpaksa menjual FT di pasar yang tipis.
TermMax menyediakan arus kas yang bisa dihitung lebih dulu, tapi perhitungan tidak boleh berhenti di halaman depan. Saya berencana menyimpan hasil bersih setelah biaya dari setiap transaksi, lalu membandingkan performa aktual di berbagai tenor. Bagi saya, laba bersih yang benar-benar bisa masuk ke dompet lebih bernilai daripada sekadar annualized tertinggi di screenshot. 🙂
Saat Anda melihat fixed income di TermMax, apakah Anda ikut menghitung Gas dan biaya untuk keluar lebih awal sekaligus?
