Setiap strategi arbitrase yang saya lakukan, sebelum masuk posisi harus dihitung satu kali di tabel. Berapa modalnya, leverage berapa kali, berapa imbal hasil di sisi aset, berapa biaya di sisi kewajiban—sekali hitung jadilah laporan laba-rugi lengkap. Tapi beberapa tahun ini saya menemukan bahwa di semua model ada satu kotak yang kosong: yaitu suku bunga pinjaman di masa depan. Tidak ada yang tahu berapa utilisasi pool dana bulan depan. Kotak itu hanya bisa diisi dengan perkiraan—dan akibatnya, kesimpulan seluruh tabel pada akhirnya juga sekadar asumsi.
Belakangan, saat membangun posisi leverage di TermMax, untuk pertama kalinya saya mengunci kotak itu. Suku bunga pinjaman yang terjadi saat transaksi langsung dikunci; biaya di sisi kewajiban dari hari pertama sampai tanggal jatuh tempo menjadi garis yang datar, tidak melonjak-lonjak. Imbal hasil di sisi aset dikurangi biaya tetap—berapa besar selisih di tengah itu, itulah yang menentukan. Pada hari membangun posisi, semuanya sudah terlihat jelas. Strategi yang tadinya seperti berjudi berubah menjadi soal aritmetika.
Jangan remehkan perubahan ini. Ada seribu cara strategi leverage bisa “mati”, tapi yang paling umum hanya satu: selisih (spread) terbalik. Anda bertaruh bahwa imbal hasil aset lebih tinggi daripada biaya pinjaman. Hasilnya, ketika Anda menjalankannya, bunga ikut naik; spread berubah negatif, dan posisi yang tadinya seperti mesin pencetak uang berubah menjadi mesin pencetak kertas sobek. Di era suku bunga mengambang, masalah ini tidak ada jalan keluarnya—Anda hanya bisa berdoa agar pasar tidak bertindak seenaknya. Suku bunga tetap berarti variabel terbesar itu dihapus dari persamaan.
Tentu saja, kurva biaya yang datar tidak berarti kurva imbal hasil juga datar. Imbal hasil di sisi aset tetap bisa berfluktuasi: rasio jaminan, APR, harga koin—semua variabel itu tetap ada. Dan ingat, leverage tetaplah leverage; bunga yang tetap tidak berarti pokoknya aman. Saat posisi mengalami penarikan (rebound) ke bawah, begitu jatuh tempo, bunga yang harus dibayar tidak akan berkurang satu sen pun.
Jadi profil pengguna sebenarnya dari rangkaian ini sangat jelas: strategi yang bisa mengunci “dua ujungnya”. Misalnya arbitrase selisih imbal hasil di sisi aset yang juga bersifat fixed income, sisi kewajiban dikunci mati, sisi imbal hasil dikunci mati—profit sesungguhnya ada pada celah di tengahnya. Jika Anda memakainya untuk bertaruh pada arah pergerakan, biaya yang sudah dikunci itu justru akan membuat kerugian terlihat lebih jelas.
Kalau kalian melakukan arbitrase, apakah kalian membangun model terlebih dulu, atau hanya masuk berdasarkan firasat?
#termmax @TermMax