Jia Yueting dan perusahaan Faraday Future miliknya, kembali mempertontonkan drama baru.
Baru pada akhir Juli, ia baru saja menggabungkan saham-saham yang berserakan, sehingga harga naik. Kurang dari sepuluh hari, ia berbalik arah—di belakang layar, diam-diam menerbitkan saham baru lebih dari setengahnya.
Apa artinya ini? Nilai saham yang dipegang semua pemegang saham kecil, dalam satu malam saja, terdilusi hingga sepertiga.
Yang paling krusial, kabar ini saat itu tertutup rapat, tak bocor setitik pun.
Namun, di pasar justru kabar baik yang lebih dulu beredar. Harga saham tiba-tiba melonjak dengan candle hijau besar sebesar 22%. Dana senilai lebih dari jutaan dolar membanjir tanpa henti, dan semua orang berspekulasi: mungkin ini pertanda kabar sangat menggembirakan akan segera datang.
Tak seorang pun tahu bahwa lonjakan volume transaksi yang begitu gila itu—sebenarnya adalah saham-saham yang baru saja “dicetak”. Saham-saham tersebut sedang berganti tangan (high turnover) di harga tinggi.
Saat laporan tengah tahun dirilis, kebenaran barulah terbongkar.
Sebuah ember air dingin langsung menghantam kepala semua orang. Pada 14 Agustus, harga saham ambruk seketika hingga 16%.
Tapi ada satu adegan yang aneh.
Meski harga saham jatuh bebas, nilai pasar perusahaan justru ikut naik. Kenapa? Karena jumlah total saham bertambah.
Seperti semangkuk bubur: buburnya tetap bubur yang sama, tetapi tiba-tiba ditambah pasir sebanyak sepertiga.
Seluruh rangkaian aksi—dari penggabungan saham, lalu penerbitan diam-diam, hingga memanfaatkan perbedaan informasi untuk melepasnya di harga tinggi—berjalan begitu mulus, nyaris tanpa memberi waktu sedikit pun bagi pasar untuk bereaksi.
Ini sudah bukan lagi sekadar “menjual angan-angan”; ini adalah tindakan mengangkut langsung tepung dari meja pemegang saham.
Jadi, ini sebenarnya cara yang diperlukan agar perusahaan bisa bertahan hidup, atau pemanenan yang sangat tepat terhadap orang terakhir yang masih percaya? $FF
Baru pada akhir Juli, ia baru saja menggabungkan saham-saham yang berserakan, sehingga harga naik. Kurang dari sepuluh hari, ia berbalik arah—di belakang layar, diam-diam menerbitkan saham baru lebih dari setengahnya.
Apa artinya ini? Nilai saham yang dipegang semua pemegang saham kecil, dalam satu malam saja, terdilusi hingga sepertiga.
Yang paling krusial, kabar ini saat itu tertutup rapat, tak bocor setitik pun.
Namun, di pasar justru kabar baik yang lebih dulu beredar. Harga saham tiba-tiba melonjak dengan candle hijau besar sebesar 22%. Dana senilai lebih dari jutaan dolar membanjir tanpa henti, dan semua orang berspekulasi: mungkin ini pertanda kabar sangat menggembirakan akan segera datang.
Tak seorang pun tahu bahwa lonjakan volume transaksi yang begitu gila itu—sebenarnya adalah saham-saham yang baru saja “dicetak”. Saham-saham tersebut sedang berganti tangan (high turnover) di harga tinggi.
Saat laporan tengah tahun dirilis, kebenaran barulah terbongkar.
Sebuah ember air dingin langsung menghantam kepala semua orang. Pada 14 Agustus, harga saham ambruk seketika hingga 16%.
Tapi ada satu adegan yang aneh.
Meski harga saham jatuh bebas, nilai pasar perusahaan justru ikut naik. Kenapa? Karena jumlah total saham bertambah.
Seperti semangkuk bubur: buburnya tetap bubur yang sama, tetapi tiba-tiba ditambah pasir sebanyak sepertiga.
Seluruh rangkaian aksi—dari penggabungan saham, lalu penerbitan diam-diam, hingga memanfaatkan perbedaan informasi untuk melepasnya di harga tinggi—berjalan begitu mulus, nyaris tanpa memberi waktu sedikit pun bagi pasar untuk bereaksi.
Ini sudah bukan lagi sekadar “menjual angan-angan”; ini adalah tindakan mengangkut langsung tepung dari meja pemegang saham.
Jadi, ini sebenarnya cara yang diperlukan agar perusahaan bisa bertahan hidup, atau pemanenan yang sangat tepat terhadap orang terakhir yang masih percaya? $FF
