Akhirnya terwujud. Aku sudah tahu kau bisa melihat, jadi aku terus kirim pesan dari sini. Sekarang semuanya benar-benar selesai di antara kita. Ke depan, aku tidak akan lagi menyebutmu. Nama dan tanda tangan sekarang baru bisa diubah tujuh hari lagi—bukan karena aku tidak mau mengubah, tetapi saatnya tiba nanti aku akan mengubahnya kembali ke yang sebelumnya. Kita saling mengenal hanya sebulan, urusan ekonomi cuma ratusan (sekian) di antara kita. Aku bahkan belum menerima uangnya. Saat kita berantakan dan putus, kita sudah sepakat menyelesaikannya: aku mendonasikan uangnya ke Tencent Charity. Soal perasaan, intinya seperti apa dirimu, aku paling tahu—kau seharusnya tidak pantas. Dan kau juga tidak memberikan sampai batas yang layak untuk mendapatkan perasaan itu. Kau tidak tulus, tapi kau menuntut aku agar bersikap tulus padamu. Murni mimpi kosong belaka.
Kenapa harus kau menghilang dari duniamu? Karena ini adalah noda dalam takdir setiap orang. Kalau kau punya anak perempuan, apakah kau ingin dia bertemu pria berusia empat–lima puluh tahun yang tidak memberinya uang, hanya memberinya makan sedikit—lalu melakukan PUA padanya? Ingin mengontrol dia, tapi merasa itu “mencintainya”, lalu menggambarkannya dengan makanan enak dan minuman enak untuknya. Begitu dia tidak menurut, tidak memuji sesuai maumu, kau langsung jadi kesal dan marah sampai makanan yang kau berikan pun diminta kembali—bahkan sampai hitungannya tepat pada satu gelas milk tea.
Kau tahu, dunia ini luas dan tak ada yang mustahil. Memang ada orang seperti itu, dan memang ada kejadian seperti itu. Tapi kejadian itu menimpa seorang perempuan, sungguh sial. Kita tidak membahas soal cinta atau tidak cinta—yang pada akhirnya, bisa dihitung sedetail itu sampai uang satu gelas milk tea oleh seorang pria, bagi seorang perempuan itu adalah noda dalam takdir hidupnya. Menurutku, seumur hidup aku bisa bertemu orang sepertimu—itu sudah cukup. Bahkan kau masih seorang pria yang di mulut mengaku asetnya sampai puluhan juta? Maksudku, seandainya kau bilang gajimu cuma tiga atau empat ribu sebulan, dan punya istri serta anak, uang saku lima ratusmu untuk camilan itu pun tak akan aku ambil. Paling tidak aku tahu itu juga bagian yang lumayan dari penghasilanmu. Kau selalu mengulang-ngulang bahwa asetmu puluhan juta, dan kau menganggap dirimu sebagai sosok hebat di antara orang-orang yang kukenal—sebulan malah perhitungan terus sampai buat belanjaku sendiri, tapi ingin terlalu banyak. Setelah bertengkar dan putus, tiap rupiah untuk camilan pun kau hitung lagi. Inilah “gaya” pria tua yang asetnya puluhan juta.
Aku tidak ingin dalam hidupku ada orang seperti itu. Plot yang begitu abstrak. Aku tidak mau dalam hidupku ada pria seperti itu yang melewatiku. Karena saat-saat bahagia yang teringat belakangan, ketika dulu pernah diperlakukan seperti itu oleh seorang pria, bisa membuatku kehilangan kendali dalam sedikit-sedikit rasa terharu—sampai aku tidak bisa membedakan mana perasaan dan mana sekadar terharu. Perasaan punya kedudukan paling tinggi; ia tidak akan pernah menjadi sandiwara palsu yang berpura-pura.
Kenapa harus kau menghilang dari duniamu? Karena ini adalah noda dalam takdir setiap orang. Kalau kau punya anak perempuan, apakah kau ingin dia bertemu pria berusia empat–lima puluh tahun yang tidak memberinya uang, hanya memberinya makan sedikit—lalu melakukan PUA padanya? Ingin mengontrol dia, tapi merasa itu “mencintainya”, lalu menggambarkannya dengan makanan enak dan minuman enak untuknya. Begitu dia tidak menurut, tidak memuji sesuai maumu, kau langsung jadi kesal dan marah sampai makanan yang kau berikan pun diminta kembali—bahkan sampai hitungannya tepat pada satu gelas milk tea.
Kau tahu, dunia ini luas dan tak ada yang mustahil. Memang ada orang seperti itu, dan memang ada kejadian seperti itu. Tapi kejadian itu menimpa seorang perempuan, sungguh sial. Kita tidak membahas soal cinta atau tidak cinta—yang pada akhirnya, bisa dihitung sedetail itu sampai uang satu gelas milk tea oleh seorang pria, bagi seorang perempuan itu adalah noda dalam takdir hidupnya. Menurutku, seumur hidup aku bisa bertemu orang sepertimu—itu sudah cukup. Bahkan kau masih seorang pria yang di mulut mengaku asetnya sampai puluhan juta? Maksudku, seandainya kau bilang gajimu cuma tiga atau empat ribu sebulan, dan punya istri serta anak, uang saku lima ratusmu untuk camilan itu pun tak akan aku ambil. Paling tidak aku tahu itu juga bagian yang lumayan dari penghasilanmu. Kau selalu mengulang-ngulang bahwa asetmu puluhan juta, dan kau menganggap dirimu sebagai sosok hebat di antara orang-orang yang kukenal—sebulan malah perhitungan terus sampai buat belanjaku sendiri, tapi ingin terlalu banyak. Setelah bertengkar dan putus, tiap rupiah untuk camilan pun kau hitung lagi. Inilah “gaya” pria tua yang asetnya puluhan juta.
Aku tidak ingin dalam hidupku ada orang seperti itu. Plot yang begitu abstrak. Aku tidak mau dalam hidupku ada pria seperti itu yang melewatiku. Karena saat-saat bahagia yang teringat belakangan, ketika dulu pernah diperlakukan seperti itu oleh seorang pria, bisa membuatku kehilangan kendali dalam sedikit-sedikit rasa terharu—sampai aku tidak bisa membedakan mana perasaan dan mana sekadar terharu. Perasaan punya kedudukan paling tinggi; ia tidak akan pernah menjadi sandiwara palsu yang berpura-pura.