Saya sudah main internet bertahun-tahun. Serius, kalau bukan karena yang kamu lakukan terlalu menjijikkan, saya tidak perlu sampai meledak seperti ini. Soalnya saya juga merasa sangat memalukan. Lagi pula, saya sampai diganggu oleh pria umur empat puluh-lima puluh yang menjijikkan itu—dia merayu kamu, bikin kamu kesenangan, lalu setelahnya dia minta balik juga susu teh dan telur kejutan Kinder. Apa saya tidak punya harga diri?

Bahkan ibu-ibu usia lima puluh pun tidak pernah ketemu seperti orang sepertimu. Yang sudah cerai lalu bawa anak juga tidak akan ketemu orang yang mau ambil balik makanan. Kamu ini hidupnya benar-benar luar biasa. Kalau tidak, kenapa saya bisa ingat kamu dan merasa seumur hidup saya sudah mendapat penghinaan yang besar begitu cepat? Saya anggap tipe barang seperti kamu memang bisa ditemui. Tapi kamu dan saya, urusan camilan sudah selesai. Saya sudah menyumbangkan uangnya ke Tencent Charity. Saya seumur hidup tidak mau bertemu lagi dengan barang seperti kamu ini. Saya tidak menyangka kamu masih tidak rela. Saya benar-benar tidak habis pikir.

Sekarang saya buka HP dan lihat kamu masih berdiri di sana, saya langsung mual. Serius. Kamu mungkin sangat senang, merasa kamu berhasil bikin saya mual. Kamu paham nggak, pria seperti kamu akan saya sebut-sebut dalam waktu yang lama. Kamu dan saya, catatan chat sebulan—pelan-pelan saya publikasi. Anggap saja jalanin terus. Jangan merasa jijik itu berarti kamu berhasil. Kamu baru dibilang berhasil setelah setahun saya mengutukmu.

Kesempatan terakhirmu adalah memutuskan hubungan dengan saya secara bersih. Jangan main-main lagi, jangan ada drama mengait seperti putus-nyambung. Kalau tidak, saya benar-benar akan memposting dan mengangkat masalah tentang kamu selama-lamanya—sampai saya merasa kegiatan mengumpat itu sudah bosan. Kalau sudah begitu, baru kamu tunggu saya merasa sudah muak dan selesai bermain.