Ibuku pensiun setelah bekerja selama 30 tahun sebagai akuntan di perusahaan makanan asing. Pensiun beliau sekitar $67K.
Beliau memutuskan untuk belajar berinvestasi kripto. Awalnya, beliau berencana mengalokasikan 10% untuk BNB dan BTC.
Saya menghabiskan dua jam menjelaskan Binance P2P kepada beliau. Sebagai seorang akuntan, beliau memahami prosesnya dengan sangat cepat.
Untuk pesanan pertamanya, beliau membeli 10 BNB seharga $608. Transaksinya selesai dengan cepat.
Untuk pesanan kedua, beliau membeli BTC senilai $2K.
Setelah itu beliau bilang sedang memasak dan sepenuhnya lupa dengan pesanan tersebut. Ketika beliau mengecek lagi, pesanan itu ternyata sudah dibatalkan.
Ibu saya terlihat khawatir dan bertanya kepada saya: “Apa aku kehilangan uang karena aku lupa?”
“Tidak, Bu. Jangan khawatir. Proses P2P cukup ketat, tapi tingkat penyelesaianmu akan lebih rendah karena pesanan yang dibatalkan.”
Kesalahan kecil, tapi jadi pelajaran yang bermanfaat.
Saat trading di Binance P2P, saya selalu bilang padanya untuk mulai dari pesanan itu sendiri: periksa pihak lawan, metode pembayaran, jumlah, harga, serta detail pembayaran sebelum mengonfirmasi.
Selama transaksi berlangsung, kedua belah pihak harus menyelesaikan bagian mereka sesuai dengan ketentuan pesanan. Jika pembeli tidak membayar atau penjual tidak melepas kripto setelah pembayaran sudah dikonfirmasi dengan benar, pihak yang lain jangan mencoba menyelesaikan masalah dengan keluar dari Binance. Simpan pesanan, chat, dan bukti pembayaran, lalu gunakan proses banding resmi bila diperlukan.
Untuk penjual, aturan paling penting adalah jangan pernah melepas kripto hanya berdasarkan screenshot atau sebuah pesan. Cek rekening bank yang sebenarnya dan pastikan uang sudah masuk.
Untuk pembeli, lakukan pembayaran menggunakan persis informasi yang tertera pada pesanan dan perhatikan timer pesanan.
Pesanan pertama ibu saya yang dibatalkan tidak membuatnya kehilangan uang.
Tapi itu mengajarkan sesuatu yang lebih penting:
Di P2P, mengikuti proses adalah bagian dari menjaga keamanan.
#binancep2pantoan @Binance Vietnam $VELVET $PORTAL $BTW
Beliau memutuskan untuk belajar berinvestasi kripto. Awalnya, beliau berencana mengalokasikan 10% untuk BNB dan BTC.
Saya menghabiskan dua jam menjelaskan Binance P2P kepada beliau. Sebagai seorang akuntan, beliau memahami prosesnya dengan sangat cepat.
Untuk pesanan pertamanya, beliau membeli 10 BNB seharga $608. Transaksinya selesai dengan cepat.
Untuk pesanan kedua, beliau membeli BTC senilai $2K.
Setelah itu beliau bilang sedang memasak dan sepenuhnya lupa dengan pesanan tersebut. Ketika beliau mengecek lagi, pesanan itu ternyata sudah dibatalkan.
Ibu saya terlihat khawatir dan bertanya kepada saya: “Apa aku kehilangan uang karena aku lupa?”
“Tidak, Bu. Jangan khawatir. Proses P2P cukup ketat, tapi tingkat penyelesaianmu akan lebih rendah karena pesanan yang dibatalkan.”
Kesalahan kecil, tapi jadi pelajaran yang bermanfaat.
Saat trading di Binance P2P, saya selalu bilang padanya untuk mulai dari pesanan itu sendiri: periksa pihak lawan, metode pembayaran, jumlah, harga, serta detail pembayaran sebelum mengonfirmasi.
Selama transaksi berlangsung, kedua belah pihak harus menyelesaikan bagian mereka sesuai dengan ketentuan pesanan. Jika pembeli tidak membayar atau penjual tidak melepas kripto setelah pembayaran sudah dikonfirmasi dengan benar, pihak yang lain jangan mencoba menyelesaikan masalah dengan keluar dari Binance. Simpan pesanan, chat, dan bukti pembayaran, lalu gunakan proses banding resmi bila diperlukan.
Untuk penjual, aturan paling penting adalah jangan pernah melepas kripto hanya berdasarkan screenshot atau sebuah pesan. Cek rekening bank yang sebenarnya dan pastikan uang sudah masuk.
Untuk pembeli, lakukan pembayaran menggunakan persis informasi yang tertera pada pesanan dan perhatikan timer pesanan.
Pesanan pertama ibu saya yang dibatalkan tidak membuatnya kehilangan uang.
Tapi itu mengajarkan sesuatu yang lebih penting:
Di P2P, mengikuti proses adalah bagian dari menjaga keamanan.
#binancep2pantoan @Binance Vietnam $VELVET $PORTAL $BTW