PEMBAYARAN ITU NYATA.
BUKTI PEMBAYARAN ITU NYATA.
SAYA TETAP TIDAK AKAN MELEPASKAN PESANAN.
Begini jenis situasi P2P yang pada awalnya bisa terlihat benar-benar bersih.
Seorang penjual memiliki dua pesanan USDT yang aktif dalam waktu yang hampir bersamaan.
Pesanan A sedang menunggu pembayaran.
Pesanan B juga aktif.
Lalu satu pembeli mengirim transfer bank dan memposting bukti pembayaran di obrolan Binance P2P.
Tidak ada yang terlihat palsu.
Uangnya benar-benar masuk ke rekening bank penjual.
Bukti pembayaran tersebut benar-benar berasal dari transfer yang berhasil.
Besarannya pun terlihat masuk akal.
Sangat mudah untuk berpikir:
“Pembayaran terkonfirmasi. Lepaskan.”
Namun sebelum menyentuh tombol Lepaskan, masih ada satu pertanyaan:
Pesanan yang mana sebenarnya milik pembayaran ini?
Di sanalah situasinya berubah.
Saat penjual membandingkan pengirim, jumlah, ID Pesanan, dan dua pesanan yang masih aktif, baris pembayaran tersebut cocok dengan transaksi yang lain.
Pembayarannya nyata.
Buktinya nyata.
Tapi bersama-sama, semuanya digunakan untuk membuat pesanan yang salah terlihat sudah dibayar.
Jadi penjual berhenti.
Tidak menebak.
Tidak melepaskan dulu lalu mengurutkannya nanti.
Kedua percakapan tetap berada di dalam Binance P2P. Penjual menyimpan dua ID Pesanan, transaksi bank, dan riwayat obrolan secara bersamaan, sementara kripto tetap terlindungi oleh proses pesanan.
Jika pemetaan masih tidak bisa dipastikan dengan jelas, di situlah Appeal/Support berfungsi.
Hal menarik yang saya temukan dari kasus seperti ini adalah bahwa pertanyaan “palsu vs nyata” tidak selalu menjadi yang tersulit dalam P2P.
Kadang setiap potongan bukti bisa saja nyata.
Kesalahannya adalah mengasumsikan bahwa potongan-potongan tersebut milik transaksi yang sama.
Sebelum Lepaskan, saya lebih memilih menjawab satu pertanyaan tambahan:
Bukan hanya “Apakah uang masuk?”
Melainkan:
“Pesanan yang tepat yang mana uang ini selesaikan?”
@Binance Vietnam #BinanceP2PAnToan