Dulu aku mengira screenshot bukti transfer bank sudah cukup. Semua orang juga begitu.

Lalu aku berakhir di pihak penjual dalam perdagangan Binance P2P, di mana pembeli mengirimiku bukti yang terlihat sempurna.

Jumlahnya cocok. Waktunya cocok. Kode referensinya juga terlihat benar.

Tapi aplikasi bankku tidak menampilkan apa pun.

Jadi aku menunggu.

Pembeli terus mendesak: “Sudah dikirim, tinggal lepaskan.”

Hampir saja aku menurut.

Saat itulah aku sadar betapa mudahnya memalsukan screenshot pembayaran. Ada generator online yang bisa membuat slip bank meyakinkan dalam hitungan detik. Bahkan notifikasi SMS pun bisa dipalsukan.

Tapi ada satu hal yang jauh lebih sulit dipalsukan: saldo sebenarnya di rekening bankku.

Binance bisa memverifikasi transaksi dan mengunci kriptonya, tapi Binance tidak bisa melihat isi rekening bankku serta memastikan bahwa uangnya benar-benar sudah masuk. Cek terakhir itu tetap tanggunganku.

Sekarang aku membuka aplikasi perbankanku, menyegarkannya, dan mengecek saldo sebelum melepas apa pun.

Biasanya butuh tambahan satu atau dua menit. Pembeli mungkin jadi tidak sabar. Sebagian mungkin bahkan mengira aku mengulur waktu.

Aku baik-baik saja dengan itu.

Karena lebih baik aku membuat seseorang menunggu dua menit daripada melepas kripto berdasarkan screenshot lalu kemudian baru tahu bahwa pembayarannya tidak pernah masuk.

Aku belajar untuk mengabaikan bukti yang tampak rapi dan malah melihat saldonya.

Bukti adalah klaim.

Saldo adalah kebenaran.

Dua menit ekstra untuk mengecek adalah kesepakatan yang siap aku buat.

#binancep2pantoan @Binance Vietnam $COW $ROBO $BMT
📸 Screenshot
59%
🏦 Bank balance
33%
🔔 SMS
8%
⏳ Bank confirmation
0%
12 Voting • Voting ditutup