Dulu saya mengira screenshot transfer sudah cukup. Seseorang mengirim bukti pembayaran, Anda memeriksa nama, nominal, tanggal/waktu, semuanya cocok, lalu Anda melepas kriptonya. Mudah, kan?
Lalu saya sempat mempelajari pola penipuan di Binance P2P dan menyadari betapa mudah asumsi itu untuk dieksploitasi.
Screenshot transfer bank bisa dipalsukan dalam waktu kurang dari satu menit dengan alat yang tepat. Nama, nominal, logo, bahkan status “berhasil” semuanya bisa terlihat meyakinkan. Penipu telah menggunakan bukti pembayaran yang diedit dan alasan seperti “terlambat dari bank” atau “situasi mendesak” untuk menekan penjual agar melepas kripto sebelum pembayaran benar-benar masuk.
Karena itu, satu aturan penting di Binance P2P: jangan pernah melepas kripto hanya berdasarkan screenshot.
Binance P2P menggunakan escrow untuk menahan kripto selama transaksi, menambah lapisan perlindungan yang penting bagi kedua belah pihak. Tapi penjual tetap perlu memastikan bahwa pembayaran fiat benar-benar sudah tiba sebelum melepas kripto.
Buka aplikasi perbankan Anda. Cek saldo yang tersedia. Pastikan dana itu benar-benar ada dan sudah masuk/ter-clearing.
Bukan hanya riwayat transaksi.
Bukan notifikasi SMS.
Bukan screenshot.
Konsekuensinya jelas. Mungkin perlu tambahan 1–2 menit, dan pembeli yang tidak sabaran mungkin tidak suka menunggu. Tapi keterlambatan kecil itu tidak ada artinya dibandingkan melepas kripto berdasarkan pembayaran yang ternyata tidak pernah masuk.
Jujur saja, pelajaran terbesar buat saya itu sederhana: screenshot tidak seharusnya pernah diperlakukan sebagai bukti.
Bukti pembayaran memberi informasi. Saldo yang tersedia mengonfirmasi.
Kebiasaan itulah yang akan saya lakukan di setiap transaksi Binance P2P.
#binancep2pantoan @Binance Vietnam $ACE $COW $ROBO
Lalu saya sempat mempelajari pola penipuan di Binance P2P dan menyadari betapa mudah asumsi itu untuk dieksploitasi.
Screenshot transfer bank bisa dipalsukan dalam waktu kurang dari satu menit dengan alat yang tepat. Nama, nominal, logo, bahkan status “berhasil” semuanya bisa terlihat meyakinkan. Penipu telah menggunakan bukti pembayaran yang diedit dan alasan seperti “terlambat dari bank” atau “situasi mendesak” untuk menekan penjual agar melepas kripto sebelum pembayaran benar-benar masuk.
Karena itu, satu aturan penting di Binance P2P: jangan pernah melepas kripto hanya berdasarkan screenshot.
Binance P2P menggunakan escrow untuk menahan kripto selama transaksi, menambah lapisan perlindungan yang penting bagi kedua belah pihak. Tapi penjual tetap perlu memastikan bahwa pembayaran fiat benar-benar sudah tiba sebelum melepas kripto.
Buka aplikasi perbankan Anda. Cek saldo yang tersedia. Pastikan dana itu benar-benar ada dan sudah masuk/ter-clearing.
Bukan hanya riwayat transaksi.
Bukan notifikasi SMS.
Bukan screenshot.
Konsekuensinya jelas. Mungkin perlu tambahan 1–2 menit, dan pembeli yang tidak sabaran mungkin tidak suka menunggu. Tapi keterlambatan kecil itu tidak ada artinya dibandingkan melepas kripto berdasarkan pembayaran yang ternyata tidak pernah masuk.
Jujur saja, pelajaran terbesar buat saya itu sederhana: screenshot tidak seharusnya pernah diperlakukan sebagai bukti.
Bukti pembayaran memberi informasi. Saldo yang tersedia mengonfirmasi.
Kebiasaan itulah yang akan saya lakukan di setiap transaksi Binance P2P.
#binancep2pantoan @Binance Vietnam $ACE $COW $ROBO
💰 Verify balance first
80%
🧾 Check the receipt
20%
🔒 Trust escrow
0%
🚫 Avoid P2P
0%
5 Voting • Voting ditutup