Mendekati pukul sebelas malam kemarin, Huy meneleponku karena ada transaksi Binance P2P sekitar 150 juta rupiah. Nada suaranya saat itu terdengar cukup panik: “Tao baru saja Release, tapi uangnya belum masuk.”
Huy cerita bahwa pihak pembeli sudah menekan “Sudah membayar” dan langsung mengirim foto transfer, tapi karena transaksi tinggal mendekati akhir waktu, pihak lain terus mengirim pesan menanyakan kenapa Huy belum membuka kunci crypto. Dia membuka aplikasi bank untuk mengecek beberapa kali, tapi belum ada uang. Akhirnya dia mengira mungkin banknya update lambat, jadi tetap menekan Release.
Setelah selesai, Huy kembali memeriksa akun—uangnya masih belum muncul.
Saat itulah dia mulai benar-benar cemas, karena dia merasa baru saja mengalami situasi terburuk saat menjual P2P: crypto sudah terbuka, tapi uangnya belum juga masuk.
Aku bilang jangan buru-buru menyimpulkan, simpan dulu Order ID, riwayat chat, dan foto transaksi, lalu cek apakah di pihak bank ada transaksi yang sedang diproses. Aku juga mengingatkan Huy kalau ada masalah, langsung selesaikan saja di Binance.
Tak lama kemudian dia mengirim pesan padaku: “Uangnya sudah masuk.”
Ternyata hari itu bank memproses transaksi dengan lambat, jadi dana datang lebih telat dari biasanya. Akhirnya tidak ada kasus scam sama sekali—hanya saja Huy sempat menakut-nakuti diriku.
Dia tertawa lalu bilang: “Tadi gue kira uangnya udah terbang hampir 150 juta.”
Aku cuma bisa bilang padanya, lain kali kalau uang belum terlihat, tetap tenang dan cek dulu. Binance P2P punya Escrow, sistem chat, dan prosedur pengaduan. Jadi kalau ada masalah dalam transaksi, sebaiknya simpan semuanya di dalam platform dan biarkan prosedur resmi yang menyelesaikan, daripada mengambil keputusan sendiri saat sedang panik.
Ini juga hal yang ingin aku bagikan melalui #BinanceP2PAnToan supaya semua orang, terutama yang baru, punya kebiasaan yang lebih aman saat bertransaksi.
@Binance Vietnam