Inilah yang terjadi ketika stablecoin, UPI offline, dan taktik penipuan berbasis AI muncul dalam satu percakapan yang sama.

Bagi para trader kripto, bagian yang menakutkan bukan lagi sekadar volatilitas. Ini adalah mengunduh dompet palsu, mempercayai “agen bantuan” berbentuk deepfake, atau memindahkan $USDT ke alur pembayaran yang terlihat sah sebelum menyadari bahwa pintu keluarnya palsu.

Di Bagian 2 diskusi Block Intelligence bersama Jetso Analin, semuanya menjadi cukup jelas: penipuan makin sulit dideteksi karena para penipu menumpuk alat. Aplikasi dompet palsu, halaman phishing, peniruan identitas, dan deepfake buatan AI kini bukan lagi trik yang terpisah. Semuanya digabungkan menjadi satu corong social-engineering yang mulus.

Hal ini penting karena kemasannya terlihat mirip dengan siklus penipuan kripto sebelumnya di sekitar $BTC dan $USDC , tetapi lebih rapi. Di pasar bull sebelumnya, airdrop palsu dan halaman bursa yang disalin yang menyebabkan kerusakan. Sekarang, AI bisa meniru wajah dan suara, sementara aplikasi palsu bisa tampak normal di ponsel sampai dana lenyap.

Dorongan UPI offline dari India menambah lapisan lain pada studi kasus ini. Pembayaran offline dapat membantu pengguna bertransaksi tanpa akses jaringan, tetapi pertanyaan teknis besarnya adalah double-spending: bagaimana cara mencegah seseorang menghabiskan nilai yang sama dua kali ketika perangkat terputus? Stablecoin menghadapi masalah kepercayaan yang mirip dalam “kemasan” yang berbeda—menyeimbangkan kecepatan, akses, dan verifikasi.

Jadi, pelajarannya sederhana: jalur pembayaran yang lebih baik akan segera hadir, tetapi penipuan juga sedang ditingkatkan pada saat yang sama. Menurut Anda, bagaimana pendapat Anda tentang pembayaran offline dan stablecoin yang berbagi masa depan yang sama?

#Stablecoins #CryptoSecurity #Binance