Sebelumnya saya pernah menulis artikel tentang investor ritel AS yang belakangan ini mulai mengurangi pembelian pada saham-saham individual tertentu—bahkan muncul penjualan bersih. Namun, untuk ETF, mereka masih mempertahankan pembelian bersih yang relatif stabil. Saat itu, kesimpulan saya adalah bahwa investor ritel sebenarnya belum benar-benar meninggalkan bursa AS; mereka hanya mulai menurunkan risiko—dari upaya mengejar saham tertentu agar mengungguli pasar, beralih ke bertaruh bahwa seluruh saham AS masih bisa terus naik.
Data terbaru dari BofA kembali mendukung pandangan tersebut. Dalam satu minggu terakhir, klien BofA mencatat pembelian bersih sekitar 3,8 miliar dolar AS pada saham-saham teknologi AS secara individual—menjadi ukuran pembelian bersih satu minggu terbesar kedua dalam sejarah. Namun, bersamaan dengan itu, dari 11 sektor, 7 sektor mengalami penjualan bersih, dan jika digabungkan seluruh saham AS per sektor, justru terjadi penjualan bersih sebesar 2,4 miliar dolar AS.
Sektor industri mencatat net sell sekitar 1,9 miliar dolar AS, layanan komunikasi net sell 1,8 miliar dolar AS, sektor keuangan net sell 1,4 miliar dolar AS, dan sektor kesehatan net sell 1,3 miliar dolar AS. Artinya, secara keseluruhan pasar saham AS tidak mengalami arus kembalinya dana yang sangat luas; justru antrian pembelian semakin terkonsentrasi pada saham teknologi.
Hal ini sebenarnya bisa dilihat bersama dengan perubahan yang saya tulis beberapa hari lalu tentang investor ritel. Investor ritel mulai mengurangi porsi saham bervolatilitas tinggi, memindahkan lebih banyak uang ke ETF, sementara sebagian dana lainnya justru secara aktif mengonsolidasikan porsi saham ke perusahaan-perusahaan teknologi. Pada akhirnya, hasil yang terjadi sangat mirip: dana semakin mudah mengalir ke perusahaan-perusahaan teratas yang memiliki bobot indeks tertinggi, likuiditas terbaik, dan konsensus pasar paling kuat.
Jadi saat ini pasar saham AS mungkin akan menunjukkan kondisi yang cukup jelas: indeksnya sendiri tetap sangat kuat, tetapi di bawah indeks tersebut, banyak saham lainnya tidak mendapatkan dukungan dana yang sebanding.
Ketika investor ritel membeli ETF indeks, dana tambahan akan dialokasikan sesuai bobot ke perusahaan berkapitalisasi pasar besar. Di saat yang sama, dana aktif mengurangi kepemilikan di sektor seperti industri, keuangan, dan kesehatan, lalu mengonsentrasikan pembelian pada saham teknologi. Pada akhirnya, kedua aliran dana ini sama-sama memperkuat antrian pembelian pada kelompok saham berkapitalisasi besar yang sama.
Ini juga berarti bahwa untuk menilai kekuatan pasar saham AS saat ini, jika hanya melihat S&P 500 atau Nasdaq saja, mungkin akan semakin tidak akurat. Kenaikan indeks masih bisa berlanjut, tetapi luasnya pasar (market breadth) bisa ikut memburuk: saham-saham mid dan small cap, sektor non-teknologi, serta saham-saham populer yang sebelumnya bergantung pada FOMO investor ritel akan semakin kekurangan tambahan dana.
Meski selama perusahaan-perusahaan papan atas masih memiliki laporan keuangan yang tetap menguntungkan, harga saham berpotensi terus naik, dan indeks juga bisa mempertahankan tren menguat. Namun begitu saham teknologi mulai menunjukkan gejala ambil untung yang jelas, sementara sektor lain saat ini tidak punya cukup dana untuk menjadi penerus, volatilitas indeks justru bisa semakin diperbesar.
Pasar saham Korea telah memberi kita contoh terbaik!

