Penyakit yen ini sudah masuk stadium akhir. Sekarang tinggal dilihat bagaimana Bank Sentral Jepang terus menunda, dan bagaimana mereka memberikan “obat bius” kepada pasar.
Saya sudah melihat terlalu banyak skenario seperti ini—ketika pelemahan mata uang sudah sampai pada tingkat tertentu, semua alat yang bisa digunakan di dalam kotak kebijakan sudah habis, maka yang tersisa hanyalah taktik “menunda-nunda”. Cara permainan Jepang ini sudah dimulai sejak setelah meletusnya gelembung pada era 90-an. Tiga puluh tahun lebih berlalu, tapi logikanya masih sama: mencetak uang, menekan suku bunga, YCC (kontrol kurva imbal hasil), dan intervensi lewat kata-kata.
Masalahnya, kesenjangan suku bunga global begitu besar, tekanan arus modal keluar begitu kencang—hanya mengandalkan seruan di mulut dan intervensi skala kecil sama sekali tidak akan mampu bertahan. Nilai yen terhadap dolar sudah jatuh sejauh ini; setiap kali terjadi pemantulan, itu bersifat teknis semata, tidak didukung fondasi fundamental.
Dalam sejarah, kondisi seperti ini biasanya terjadi karena salah satu dari dua hal: perubahan mendadak pada lingkungan eksternal (misalnya The Fed beralih ke pemangkasan suku bunga), atau Bank Sentral Jepang terpaksa menaikkan suku bunga secara besar-besaran. Namun sekarang, dengan kondisi ekonomi Jepang seperti ini—menaikkan suku bunga? Jangan mimpi. Jadi mereka akan terus menunda, sampai kapan pun istilahnya.
Dulu saya pernah melihat naskah serupa di ruang trading; pada akhirnya, pasar sendirilah yang menentukan harga, sementara bank sentral hanya bisa menerima secara pasif. Yen sekarang juga berada di jalur itu: sudah terkonfirmasi stadium akhir. Rencana perawatannya? Tidak ada—yang ada hanya terapi paliatif.
Saya sudah melihat terlalu banyak skenario seperti ini—ketika pelemahan mata uang sudah sampai pada tingkat tertentu, semua alat yang bisa digunakan di dalam kotak kebijakan sudah habis, maka yang tersisa hanyalah taktik “menunda-nunda”. Cara permainan Jepang ini sudah dimulai sejak setelah meletusnya gelembung pada era 90-an. Tiga puluh tahun lebih berlalu, tapi logikanya masih sama: mencetak uang, menekan suku bunga, YCC (kontrol kurva imbal hasil), dan intervensi lewat kata-kata.
Masalahnya, kesenjangan suku bunga global begitu besar, tekanan arus modal keluar begitu kencang—hanya mengandalkan seruan di mulut dan intervensi skala kecil sama sekali tidak akan mampu bertahan. Nilai yen terhadap dolar sudah jatuh sejauh ini; setiap kali terjadi pemantulan, itu bersifat teknis semata, tidak didukung fondasi fundamental.
Dalam sejarah, kondisi seperti ini biasanya terjadi karena salah satu dari dua hal: perubahan mendadak pada lingkungan eksternal (misalnya The Fed beralih ke pemangkasan suku bunga), atau Bank Sentral Jepang terpaksa menaikkan suku bunga secara besar-besaran. Namun sekarang, dengan kondisi ekonomi Jepang seperti ini—menaikkan suku bunga? Jangan mimpi. Jadi mereka akan terus menunda, sampai kapan pun istilahnya.
Dulu saya pernah melihat naskah serupa di ruang trading; pada akhirnya, pasar sendirilah yang menentukan harga, sementara bank sentral hanya bisa menerima secara pasif. Yen sekarang juga berada di jalur itu: sudah terkonfirmasi stadium akhir. Rencana perawatannya? Tidak ada—yang ada hanya terapi paliatif.