Defisit federal AS selama 10 bulan hingga Juli 2026 mencapai 1,8 triliun dolar, naik 5% secara year-on-year; defisit pada bulan Juli sendiri sebesar 4320 miliar dolar, menjadi rekor tertinggi.

Di balik angka ini ada tiga pendorong utama: lonjakan belanja wajib seperti kesehatan, biaya bunga utang yang untuk pertama kalinya dalam setahun menembus 1 triliun dolar, serta penundaan pemulangan (refund) yang menekan penerimaan fiskal akibat putusan pengadilan yang membatalkan tarif.

Perkara bahwa bunga utang menembus lebih dari 1 triliun dolar layak dibahas sedikit—ini pada dasarnya berarti pemerintah AS setiap tahun hanya untuk membayar bunga sudah menghabiskan setara PDB sebuah negara menengah. Ini bukan hal baru, hanya saja siklus lama makin dipercepat: ekspansi defisit → menerbitkan obligasi → bunga meningkat → defisit kembali melebar. Ciri awal dari spiral utang yang khas.

Bagian “refund tarif” ini juga cukup menarik: satu putusan pengadilan langsung memengaruhi penerimaan fiskal, yang menunjukkan kerapuhan hukum dari alat kebijakan lebih tinggi daripada yang dibayangkan. Di dalam kotak alat proteksionisme perdagangan, tidak semua barang bisa dipakai dengan mulus.

Dari sudut pandang siklus makro, kecepatan ekspansi defisit semacam ini muncul saat ekonomi tidak menunjukkan kemunduran yang jelas; biasanya ini berarti dua kemungkinan: entah pemerintah menyiapkan ruang penyangga untuk semacam guncangan di masa depan (kurang mungkin), atau disiplin fiskal sudah sepenuhnya lepas kendali (lebih mungkin).

Dampak bagi pasar? Dalam jangka pendek, tekanan pasokan obligasi AS akan terus berlanjut, sehingga imbal hasil tenor panjang sulit benar-benar turun. Untuk $USD, ini seperti paradoks—secara teori ekspansi defisit adalah sentimen negatif bagi dolar, tetapi jika kondisi di bagian dunia lain lebih buruk, dana tetap akan kembali mengalir ke AS. Logika khas “apel yang paling tidak busuk”.

Dalam kondisi fiskal seperti ini, setiap pembahasan tentang “stimulus fiskal” menjadi sangat canggung. Ruangnya sudah tidak banyak.