CEO dana kekayaan berdaulat Norwegia senilai 2,3 triliun dolar, Tangen, baru-baru ini membahas sebuah pandangan yang menarik: AI dalam jangka pendek justru mendorong inflasi, sedangkan dalam jangka panjang malah menjadi kekuatan penekan inflasi.

Dana mereka sendiri sudah menggunakan AI selama lebih dari setahun, dan produktivitas meningkat langsung sebesar 20%, sementara biaya transaksi juga turun. Pengalaman langsung ini membuatnya makin yakin pada investasi AI—bukan sekadar mendengar cerita, tetapi benar-benar melihat hasilnya.

Dalam jangka pendek, AI memang menghabiskan banyak biaya: investasi besar-besaran pada pusat data, energi, dan infrastruktur sedang gencar dilakukan, dan itu semua menjadi tekanan inflasi. Namun, jika dilihat beberapa tahun ke depan, biaya perolehan pengetahuan mendekati nol, efisiensi kerja meningkat tajam, robot mengambil alih pekerjaan yang berulang, dan pada akhirnya akan menekan biaya operasional ekonomi secara keseluruhan.

Ini mirip dengan banyak siklus teknologi dalam sejarah: pada fase awal, belanja modal melonjak sehingga mendorong inflasi, sedangkan pada fase kematangan, lonjakan produktivitas membawa dampak deflasi. Kuncinya adalah jendela waktu dan efisiensi alokasi modal.

Ia juga bercanda bahwa robot bisa mengurangi pertengkaran dalam keluarga—"Nanti siapa yang buang sampah, siapa yang membersihkan mesin pencuci piring, tidak perlu ribut lagi". Kalimatnya memang terdengar ringan, tetapi di balik itu ada ekspektasi nyata terhadap perubahan struktural tenaga kerja.

Dari sudut pandang makro, siklus investasi AI baru saja dimulai, tetapi manfaat produktivitas yang sesungguhnya mungkin perlu beberapa tahun agar bisa benar-benar terwujud. Saat ini, penetapan harga di pasar didasarkan pada ekspektasi; untuk benar-benar terjadi, diperlukan waktu dan kesabaran.