Data jajak pendapat AS mengungkap sebuah realitas yang sudah lama jadi perbincangan: begitu ekspektasi inflasi terbentuk, ia akan menguatkan dirinya sendiri.

41% orang khawatir dalam beberapa bulan mendatang mereka tidak bisa membeli bahan makanan, lonjak tajam dibanding April yang hanya 24%. Ini bukan sekadar kepekaan terhadap harga, melainkan runtuhnya kepercayaan. Pangan, bensin, perumahan, kesehatan—berbagai tekanan menumpuk, arus kas keluarga biasa sudah sangat menegang.

Secara historis, kecemasan seperti ini sering kali muncul lebih dulu sebelum terjadinya penyusutan konsumsi yang benar-benar nyata. Pada awal 1980-an saat siklus kenaikan suku bunga Volcker, maupun menjelang krisis KPR subprime 2008, terdapat titik belok opini publik yang serupa. Ketika sentimen pesimistis masyarakat terhadap ekonomi sudah menembus ambang tertentu, ruang gerak pembuat kebijakan akan menyusut secara drastis.

Hampir delapan dari sepuluh orang menilai kondisi ekonomi memburuk; angka ini sudah mendekati level tipikal menjelang resesi. Federal Reserve sekarang tidak lagi berhadapan dengan kurva Phillips versi buku pelajaran, melainkan tekanan sosial dan risiko politik yang nyata. Keputusan apakah menurunkan suku bunga atau tidak, kini bukan lagi sekadar pertimbangan teknis, tetapi juga perimbangan dalam ekonomi politik.

Dari sisi komoditas besar, fluktuasi harga pangan dan energi secara langsung memengaruhi jangkar ekspektasi inflasi. Jika masyarakat terus merasakan tekanan biaya hidup, meski CPI inti turun, kepercayaan ekonomi secara keseluruhan sulit untuk pulih. Begitu ekspektasi ini mengeras, daya beli riil $USD dan stabilitas $exchange rate akan ikut terseret turun dalam jangka panjang.

Pepatah lama mengatakan: inflasi adalah pajak bagi orang miskin, sedangkan deflasi adalah pajak bagi orang kaya. Kini yang menjadi masalah: apa lagi yang tersisa dalam kotak alat kebijakan?