Sebenarnya, di era ini, kalau bicara soal nilai emosional, soal seksualitas, hubungan pria dan wanita itu setara dan sama-sama punya keunggulan. Masa muda adalah modal terbesar. Bukan karena cewek yang lebih mudah cari uang, tapi karena sebagian besar perempuan mau merendahkan diri, bisa mengalah. Dan di banyak cara berpikir, mereka sejak awal sudah terpikir untuk bergantung pada pasangan—suami misalnya.

Pria di usia berapa pun bisa menghasilkan uang. Dari sisi perempuan, misalnya waktu aku umur dua puluh, aku dijaring oleh seorang pria umur tiga puluhan—hasilnya delapan puluh ribu. Ini benar-benar kejadian, bahkan sempat sampai pengadilan; ada catatan dan putusan pengadilannya juga. Memang aku belum pernah dijaring oleh pria yang seumuran atau dua puluhan, tapi uang yang aku dapatkan juga dari pria-pria yang usianya lebih dari tiga puluh.

Kenapa harus lebih tua? Ya mau bagaimana lagi. Aku bukan tipe yang cantik banget, pria-idola, atau yang bikin orang langsung jatuh hati. Pria muda umur dua puluhan yang anak konglomerat juga tidak tertarik padaku. Tapi pria yang di atas tiga puluhan beda ceritanya: pertama, yang tiga puluhan pasti lebih kaya dibanding yang usia dua puluhan; kedua, mereka tidak terlalu banyak memilih. Ditambah lagi, aku berasal dari desa, ada aura kampung yang kental di diriku—kamu ngerti kan? Bukan aura sosialita, bukan aura mulia. Ini aura yang “kena di tanah”, semacam kualitas yang bikin dia merasa bisa menguasaimu, bisa menemukan harga diri sebagai laki-laki.

Di dunia ini, sebagian besar adalah orang biasa, proporsi orang luar biasa sangat sedikit. Kalau aku bisa bikin seorang pria biasa yang usianya di atas tiga puluhan merasa punya pencapaian, itu sudah cukup. Begitu juga denganmu: anak muda yang masih awal dua puluhan, kalau kamu cari kakak perempuan yang usianya tiga puluh-an empat puluhan—yang sudah sempat menabung uang, belum menikah atau yang sudah cerai tapi masih lajang; kalau dia punya anak juga tidak apa-apa. Kalau ada anak, biasanya yang didapat lebih sedikit, karena perempuan cenderung mengurus keluarga, dan pasti duluan membelanjai untuk anaknya. Tapi laki-laki tidak sama. Kadang anak dan istri pun bisa saja diabaikan. Ayah kandungku tipe seperti itu juga—pokoknya 666. Pria kadang memang lebih dingin.

Kamu harus membuatnya tersulut sisi keibuan. Jadi kamu perlu sedikit berpura-pura lemah. Tunjukkan dalam keseharian bahwa kamu punya jiwa lelaki, namun ketika menghadapinya, tatapannya dibuat seperti anak kecil juga—sedih-sedih, merengek. Intinya bikin dia merasa kasihan padamu. Sesekali saja, jangan sering. Banyak perempuan masih tipe yang menyukai “yang dominan/kuat”—kalau kamu sesekali menunjukkan, itu saja sudah cukup. Jangan sampai kamu merengek pada perempuan yang masih awal dua puluhan, seperti aku misalnya. Kalau pria memerasku sambil menangis, aku justru akan merasa sebal. Tapi kalau sudah sampai usia tiga puluh sampai empat puluh, itu belum tentu. Semakin tua, semakin paham untuk memetik bunga sebelum layu; mereka akan mengeluarkan uang untuk anak muda, ingin melihat dia senang, ingin merasakan sensasi seperti memetik bunga sebelum layu.

Ada banyak jalan pintas dalam hidup. Cari “boss babe” kaya raya sampai langsung melesat itu sebenarnya risikonya paling kecil. Cinta kadang memang ajaib, begitu juga perasaan manusia.