#binancep2pantoan @Binance Vietnam
Setiap kali muncul kasus akun bank diblokir setelah transaksi P2P, reaksi pertama banyak orang adalah menyalahkan Binance atau Merchant. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, ini sebenarnya adalah rangkaian tanggung jawab, bukan kesalahan satu pihak saja. Hal yang perlu dipikirkan adalah banyak peserta P2P masih menganggap ini hanya sebagai transaksi jual beli USDT, padahal dari sudut pandang bank, itu tetap merupakan transaksi transfer uang antarindividu dan harus mengikuti prosedur pengendalian risiko.

Bank bertanggung jawab untuk melakukan pemblokiran sementara ketika mendeteksi aliran dana yang terkait dengan indikasi yang tidak wajar atau ketika ada laporan pengaduan dari pihak berwenang. Merchant bertanggung jawab menggunakan sumber dana yang transparan, serta membatasi penerimaan atau pengalihan dana melalui rekening yang berisiko tinggi. Pembeli juga bertanggung jawab untuk memverifikasi informasi penerima dengan benar, tidak menerima untuk mentransfer atas nama orang lain, atau melakukan transaksi di luar prosedur Binance P2P. Sementara itu, Binance P2P berperan membangun mekanisme Escrow, sistem penilaian Merchant, dan penanganan sengketa, namun tidak dapat sepenuhnya mengontrol asal-usul setiap koin dalam sistem perbankan lokal.

Masalah terbesar bukanlah apakah Binance P2P aman atau tidak, melainkan celah penghubung antara sistem keuangan tradisional dan pasar kripto. Ketika dua sistem dengan standar pengelolaan yang berbeda sama-sama ada, pengguna adalah pihak yang menanggung risiko paling besar jika kurang pengetahuan. Oleh karena itu, solusi jangka panjang tidak hanya meningkatkan teknologi anti-penipuan, tetapi juga menyusun proses verifikasi yang lebih transparan antara bank, platform, dan pengguna untuk mengurangi kasus pemblokiran yang tidak diharapkan.