Melihat sebuah postingan: seorang anak muda yang belajar keuangan. Modalnya 400 ribu, lalu jadi lebih dari 7 juta. Tapi tahun ini ia merugi lagi sekitar 2 juta. Ia menuliskan 6 poin pembelajaran—saya membacanya dua kali, dan setiap poin benar-benar dibayar dengan uang sungguhan.

Ia bilang kuliah S1 dan S2-nya bidang keuangan; S1 di Australia dan S2 di Australia, TOP30. Awalannya tidak rendah, tapi begitu masuk pasar saham tetap saja diserang.

Tahun 2024 ia memasukkan 400 ribu dari uang keluarga untuk membeli mobil—tapi ia gunakan untuk masuk pasar saham. Ia mencoba beli berkali-kali dengan nilai beberapa puluh ribu, menambah posisi ketika untung, dan mundur ketika rugi. Kemudian ia naik ke level leverage—beruntung ia bisa mencapai lebih dari 7 juta. Namun tahun ini, ia kembali merugi lebih dari 2 juta.

Pengalaman seperti ini, pada siapa pun pasti akan butuh waktu untuk pulih.

Ia menuliskan beberapa poin, dan saya memilih yang paling terasa untuk dibahas:

Poin pertama: Jangan pernah pakai leverage. Ucapan ini sudah didengar puluhan ribu kali, tapi tetap saja tidak berguna—yang namanya tetap akan masuk. Kenapa? Karena saat menghasilkan uang, kita merasa, “kali ini beda.” Hasilnya apa? Saat harga turun, mental lebih dulu hancur. Begitu mental hancur, semua keputusan yang dibuat jadi salah. Orang yang benar-benar pernah rugi baru akan benar-benar bisa mencerna kalimat itu: “orang kaya bisa jadi selamanya—dan itu akan terulang.”

Poin kedua: Kontrol ukuran posisi, siapkan langkah cadangan. Ia bilang menambah posisi bukan karena turun 1–2 persen lalu langsung tambah, tetapi membuat tahapan: misalnya saat turun 10% dan 15%, tambah berapa. Banyak orang mati di pola: “harga turun lalu tambah; tambah sampai penuh; sudah penuh lalu terseret.” Membagi bertahap, jarak yang jelas, dan ada rencana—itulah yang membuat kita bisa bertahan lama.

Poin ketiga: Saat harga naik, belajarlah mengurangi posisi, terutama setelah terjadi lonjakan volume besar. Poin ini bernilai banyak. Masalah terbesar investor ritel adalah saat naik tidak tega jual, saat turun tidak tega cut loss. Lonjakan volume besar sering kali terjadi di puncak emosi. Di puncak emosi, mengurangi posisi—biasanya tidak akan meleset terlalu jauh.

Poin keempat: Penarikan (drawdown) adalah musuh terbesar. Dari 7 juta rugi 2 juta—drawdown hampir 30%. Dari 7 juta ke 5 juta, penurunannya membuat tekanan psikologis jauh lebih besar daripada dari 400 ribu ke 7 juta. Untung yang sudah didapat lalu rugi lagi sampai habis terasa lebih menyakitkan dibanding tidak pernah menang sama sekali.

Poin kelima: Bisa saja hanya melakukan satu saham. Ia bilang bertahun-tahun hanya fokus pada satu saham, main swing dan T (trading harian). Kalimatnya terlihat sederhana, tapi ambangnya tinggi—Anda harus cukup paham tentang perusahaan itu, cukup akrab dengan volatilitasnya, dan cukup yakin tentang nilai perusahaan tersebut. Tidak banyak orang yang bisa melakukan ini.

Poin keenam: Belajarlah untuk berada di posisi tanpa saham (cash). Ia bilang posisi tanpa saham adalah stop-loss terbesar. Saya benar-benar percaya itu. Banyak orang rugi bukan karena salah lihat, tapi karena jelas tidak ada peluang, namun tetap memaksa mencari kesempatan. Tidak membeli bukan karena takut, tapi menunggu. Tunggu saat pasar panik, tunggu bencana pasar saham, tunggu ketika orang lain tidak kuat lagi, barulah masuk.