Circle hasilkan kinerja Q2 yang melampaui ekspektasi, tapi harga saham justru naik dulu lalu ambruk

Hari ini “raja stablecoin” Circle menyerahkan rapor Q2: laba per saham (disesuaikan) sebesar US$0,18, mengungguli estimasi Wall Street US$0,16. Laba bersih US$48 juta juga melampaui perkiraan. Secara logika harusnya ini kabar bagus—tapi nyatanya, saham justru sempat melonjak 10% saat pra-pasar, lalu langsung terjun; turun 3%. Kasih gula dulu, lalu tampar—begitulah cara Wall Street mengatur emosi; bahkan lebih “nendang” daripada saya main kontrak.

Kenapa untung besar malah dihajar? Karena sisi pendapatan bocor: pendapatan ditambah pendapatan dari cadangan sebesar US$701 juta, lebih rendah dari perkiraan US$712 juta—selisihnya US$11 juta. Cuma selisih US$11 juta saja, pasar langsung ganti wajah. Intinya, untuk perusahaan stablecoin saat ini, pasar tidak lagi terlalu peduli “seberapa besar kamu bisa menghasilkan laba”, yang mereka pedulikan cuma “apakah kamu masih bisa menghasilkan laba”.

Kalau dilihat dari datanya, sebenarnya tidak terlalu buruk. Peredaran USDC mencapai US$73,3 miliar, naik 19% year-over-year; volume transaksi on-chain sebesar US$148 miliar, melonjak 151% year-over-year. CEO Jeremy Allaire bicara tegas: “BlackRock, New York Mellon, Standard Chartered—mereka bukan datang untuk uji coba, tapi untuk ekspansi.” Kalimatnya terdengar menggugah, tapi ada detail yang menarik: peredaran USDC sempat mendekati puncak pada tahun 2026, sekitar US$80 miliar, namun kini menyusut. Ketika kondisi suku bunga berubah, dana bergeser ke obligasi AS yang did tokenisasi; bisnis stablecoin yang “makan kupon sambil mencetak uang” sedang pelan-pelan kehilangan tenaga.

Karena itu, Circle memasang harapan pada Arc. Pada 16 September, mainnet Arc akan diluncurkan. Sudah ada lebih dari 100 lembaga yang membangun di ekosistemnya. Daftar validator pendiri bagaikan “hall of fame” dunia keuangan: BlackRock, Visa, Mastercard, DTCC, Standard Chartered, Galaxy—semuanya ada. Bahkan BlackRock berencana men-deploy dana obligasi AS yang tokenisasi milik mereka berbasis token BUIDL. Jika langkah ini berhasil, Circle bisa berevolusi dari “pabrik pencetak uang” menjadi “bursa kliring Wall Street”—dan saat itu, apakah harga saham naik atau tidak, mungkin justru server Wall Street duluan yang perlu lembur.

Prediksi saya: laporan keuangan aslinya tidak jelek; yang “rusak” adalah manajemen ekspektasi. Industri stablecoin sudah bergeser dari tahap “menceritakan kisah pertumbuhan” ke tahap “bersaing soal implementasi oleh institusi”. Mainnet Arc pada 16 September adalah momen pembuktian berikutnya. Koreksi harga saham kali ini, apakah jadi “lubang emas” atau “lubang penampung pembeli terakhir”, semuanya tergantung apakah Arc benar-benar bisa mewujudkan janji.

Menurut kamu, Circle kali ini menciptakan golden pit—turun dulu baru naik—atau justru接下来 sudah habis dan ini jadi lubang yang merugikan setelah kabar baik terserap? Sampaikan pendapatmu di kolom komentar.