Menurut saya, dorongan dasar agar dunia kripto dapat bertahan dalam jangka panjang adalah «tingkat imbal hasil bebas risiko» yang lebih tinggi dibanding dunia tradisional, bukan cerita “kaya dalam tiga hari dua hari” yang disebarkan terus-menerus. Kalau tidak, sejak lama sudah berakhir seperti permainan “door-to-door drum” (guling dadu) yang menumpahkan kekacauan—seperti kasus trading sepatu, trading teh, dan sejenisnya.

Tentu, yang saya maksud di sini bukanlah definisi ketat dalam ilmu ekonomi, melainkan “bebas risiko” yang relatif dalam lingkungan tempat kita berada.

Dalam dunia keuangan tradisional, tingkat imbal hasil bebas risiko biasanya dijadikan patokan dari imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka pendek, dan dalam jangka panjang cenderung berputar di kisaran 2%-5%; saat ini kira-kira 3,80%.

Sementara dalam konteks kripto, biasanya kita menganggap beberapa metode dengan koefisien keamanan yang tinggi—yakni pendapatan yang relatif stabil—sebagai imbal hasil bebas risiko atau berisiko rendah.

Sebagai contoh, dengan USD1: penerbitannya berkaitan dengan keluarga Trump + dukungan cadangan 100% atas setara kas seperti deposito dolar AS dan obligasi pemerintah AS + dapat ditebus 1:1, bersama-sama menjadikan USD1 sebagai salah satu patokan imbal hasil di dunia kripto.

Dalam enam putaran aktivitas terakhir, USD1 terus memberikan insentif imbal hasil tinggi, dengan tingkat imbal hasil tahunan bertahan di kisaran 4,94%-15,56%.

Meski terdengar tidak terlalu tinggi, namun itu secara signifikan lebih besar daripada obligasi pemerintah AS jangka pendek, apalagi jika dibanding negara lain yang menerapkan kebijakan pengetatan.

Aktivitas USD1, dalam banyak hal, telah menahan dana spekulatif yang berpotensi kembali ke keuangan tradisional. Jika dunia kripto ingin memperoleh tambahan (incremental) dan berkembang dalam jangka panjang, maka peluang imbal hasil seperti ini pasti tidak bisa diabaikan.