South Africa Drafts Crypto Tax Rules Using Existing Tax System

Otoritas pajak Afrika Selatan, South African Revenue Service (SARS), telah merilis panduan rancangan yang bertujuan untuk memperjelas bagaimana aset kripto harus diperlakukan berdasarkan aturan pajak penghasilan dan pajak keuntungan modal yang sudah berlaku di negara tersebut. Proposal ini menegaskan kembali bahwa sebagian besar aktivitas terkait kripto pada umumnya dipandang melibatkan “disposals” yang dapat dikenai pajak, sekaligus menekankan bahwa perlakuan pajak yang tepat dapat berbeda tergantung pada fakta spesifik wajib pajak.

SARS menerbitkan pedoman rancangan pada hari Rabu sebagai bagian dari proses yang mengundang komentar publik. Jika panduan tersebut diadopsi, hal itu dapat berdampak praktis bagi jutaan pengguna, terutama mengingat laporan SARS sebelumnya bahwa setidaknya 5,8 juta penduduk memiliki aset kripto pada 2024.

Intisari

  • Draf pedoman SARS membingkai aset kripto sebagai aset tak berwujud untuk tujuan pajak—bukan sebagai alat pembayaran yang sah (legal tender) atau mata uang asing.

  • Trading, swapping, dan belanja umumnya diperlakukan sebagai disposisi yang dapat memicu peristiwa pajak berdasarkan aturan yang sudah ada.

  • Bagaimana seorang wajib pajak diklasifikasikan—misalnya sebagai trader dibanding investor jangka panjang—bergantung pada perilaku, frekuensi transaksi, dan maksud.

  • Draf ini juga menyoroti bahwa kripto dapat dikenai pajak hibah saat dialihkan sebagai “properti”, dengan tarif yang dapat berkisar 20% hingga 25% tergantung nilai.

  • Pedoman ini terbuka untuk masukan publik hingga 31 Agustus dan dijelaskan oleh SARS sebagai kejelasan interpretatif, bukan seperangkat kewajiban pajak baru.

Mengapa draf pedoman SARS penting bagi pemegang kripto

Afrika Selatan sering disebut sebagai salah satu pasar kripto paling aktif di kawasan tersebut. Dalam laporan Oktober 2024, Chainalysis mengatakan negara itu menerima sekitar $26 miliar nilai kripto dalam periode satu tahun. Tingkat partisipasi ini menjelaskan mengapa kejelasan pajak menjadi isu yang sedang berjalan: semakin banyak transaksi harian yang terjadi—di seluruh platform trading, transfer peer-to-peer, dan pembayaran pedagang—semakin sulit bagi wajib pajak menerapkan aturan pajak dengan yakin tanpa panduan interpretatif yang rinci.

Dalam drafnya, SARS tidak mengusulkan rezim pajak baru yang sama sekali untuk kripto. Sebaliknya, SARS merujuk kembali ke Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 1962, bersama prinsip-prinsip pajak capital gains, dengan tujuan mengurangi ambiguitas tentang bagaimana kerangka tersebut berlaku untuk aktivitas kripto yang umum.

Kripto diperlakukan sebagai aset, bukan mata uang

Tema utama dalam draf ini adalah klasifikasi hukum dan pajak. SARS mengatakan aset kripto bukan alat pembayaran yang sah dan bukan “mata uang asing” untuk tujuan pajak. Sebaliknya, otoritas tersebut mengkarakterkannya sebagai aset tak berwujud.

Dalam pedoman tersebut, SARS menekankan bahwa meskipun kripto dapat diperdagangkan dan dinegosiasikan secara luas, ia tidak boleh diperlakukan sebagai mata uang dalam pengertian pajak yang biasanya digunakan untuk aturan mata uang asing. Interpretasi yang disukai lembaga tersebut, menurut draf, adalah bahwa aset kripto bukan “mata uang”, dan karena itu bukan “mata uang asing”.

Peristiwa pajak terkait disposisi: trading, swapping, dan belanja

Draf SARS menunjukkan bahwa banyak tindakan kripto sehari-hari kemungkinan akan diperlakukan sebagai disposisi kena pajak. Dengan pendekatan ini, suatu disposisi dapat terjadi dalam beberapa skenario—bukan hanya ketika pengguna menjual token untuk mata uang fiat, tetapi juga ketika mereka melakukan swap antar aset kripto atau menggunakan kripto untuk membeli barang dan layanan.

Draf ini tidak mengklaim hasil yang berlaku untuk semua orang. Sebaliknya, SARS berulang kali menandakan bahwa perlakuan pajak yang tepat bergantung pada keadaan wajib pajak. Namun, dengan menggambarkan sebagian besar aktivitas kripto sebagai melibatkan peristiwa disposisi yang berpotensi terjadi, pedoman ini mengarahkan wajib pajak pada kerangka kerja di mana pelaporan dan pencatatan menjadi semakin penting, terutama bagi individu yang sering melakukan transaksi.

Maksud dan pola transaksi mendorong perbedaan trader vs investor

Mungkin elemen yang paling penting secara operasional bagi wajib pajak adalah fokus SARS pada maksud. Draf menyatakan bahwa apakah seorang wajib pajak harus diperlakukan sebagai trader atau sebagai investor jangka panjang bergantung pada perilaku, frekuensi transaksi, dan tujuan memegang kripto.

SARS juga menekankan bahwa maksud (intent) tidak bersifat statis. SARS menyarankan wajib pajak mempertimbangkan maksud tidak hanya pada saat perolehan, tetapi juga ketika melakukan disposisi atas suatu aset, serta sepanjang periode aset tersebut dimiliki—dengan mengakui bahwa kondisi dan tujuan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Secara praktis, ini berarti wajib pajak yang memiliki kripto untuk alasan investasi mungkin tetap menghadapi perlakuan yang berbeda jika tindakannya menyerupai aktivitas trading—misalnya volume transaksi yang tinggi atau aktivitas yang menunjukkan adanya niat untuk secara aktif meraih keuntungan dari pergerakan pasar. Sebaliknya, pengguna yang sering bertransaksi mungkin masih dapat berargumen untuk klasifikasi sebagai investor jika perilaku dan tujuannya selaras dengan kepemilikan jangka panjang, bukan trading.

Pajak hibah juga bisa berlaku untuk transfer kripto

Di luar pertimbangan pajak penghasilan dan capital gains, draf SARS mencatat bahwa aset kripto dapat diperlakukan sebagai “properti” menurut hukum pajak, yang dapat membuat pajak hibah masuk dalam cakupan. Draf menunjukkan tarif pajak hibah berkisar 20% hingga 25% tergantung nilai hibah.

Hal ini penting bagi siapa pun yang memindahkan kripto tanpa menerima nilai sebagai imbalan—terutama jika aset dihibahkan kepada anggota keluarga, lembaga amal, atau penerima lainnya. Walaupun skenario hibah lebih sempit dibanding trading atau belanja, pedoman ini menunjukkan bahwa wajib pajak tidak boleh berasumsi bahwa pemberian (gift) menghindari konsekuensi pajak hanya karena tidak melibatkan “penjualan” secara konvensional.

Komentar publik dibuka hingga 31 Agustus

Draf pedoman ini belum menjadi hukum yang final. SARS menyatakan draf ini terbuka untuk komentar publik hingga 31 Agustus dan dimaksudkan untuk memberikan kejelasan interpretatif, bukan memperkenalkan persyaratan hukum baru yang sepenuhnya.

Seiring adopsi kripto di Afrika Selatan terus meningkat dan aktivitas tetap besar—khususnya dalam konteks transaksi institusional dan berskala lebih besar yang disorot oleh Chainalysis—panduan pajak seperti ini menjadi acuan penting. Pertanyaan berikutnya bagi pengguna dan profesional adalah bagaimana versi final akan menyempurnakan prinsip-prinsip tersebut, dan bagaimana SARS mengharapkan wajib pajak mendokumentasikan maksud serta pola transaksi saat mengklasifikasikan aktivitas untuk tujuan pajak.

Artikel ini awalnya diterbitkan sebagai South Africa Drafts Crypto Tax Rules Using Existing Tax System on Crypto Breaking News – sumber terpercaya Anda untuk berita kripto, berita Bitcoin, dan pembaruan blockchain.