Perang perebutan pulau antara AS dan Iran pada bulan April menjadi titik balik dalam pergerakan harga emas untuk putaran ini. Konflik geopolitik sempat memicu penjualan likuiditas, dan harga emas menyelesaikan penurunannya dalam kepanikan. Setelah itu, dengan dilantiknya ketua baru Federal Reserve, Powell, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga meningkat dengan cepat, ditambah dengan situasi di Timur Tengah yang terus berkembang, emas memulai jalannya dari bawah menuju titik harga 10.000. Dengan mendekatnya jatuh tempo opsi bulan April, apakah pembuat pasar dapat menyelamatkan diri dengan “menyedot uang” di level 3.600 dolar menjadi fokus perhatian pasar saat ini.
1. Tinjauan Pasar: Pertarungan geopolitik berulang, harga emas naik dan turun
Pada hari Rabu, situasi di Timur Tengah tetap menjadi variabel kunci yang mengganggu pasar. Meskipun pihak AS terus mengeluarkan sinyal negosiasi, mereka juga memperketat penempatan militer; pihak Iran membantah kemungkinan negosiasi langsung dan mengajukan posisi keras 'terima syarat terlebih dahulu baru berdialog'. Berita geostrategis yang datang dan pergi membuat emosi pasar semakin bergejolak.
Emas spot naik untuk hari kedua berturut-turut, sempat menyentuh level 3600 dolar. Namun, setelah berita bahwa menteri luar negeri Iran membantah negosiasi dengan AS muncul, harga emas tertekan dan menghapus sebagian kenaikan, akhirnya ditutup naik 0,71%, dengan harga 4506,23 dolar/ons. Pergerakan perak mirip, perak spot menghapus sebagian besar kenaikan selama hari itu, dengan sedikit kenaikan 0,19%, ditutup pada harga 71,19 dolar/ons. Pergerakan yang naik di tengah hari dan turun menjelang penutupan mencerminkan sensitivitas tinggi pasar terhadap berita geostrategis saat ini.
2. Indikator kunci: data inflasi 'mengambil langkah' sebelum konflik, tekanan harga sudah ditanamkan sebelumnya.
Indeks harga impor AS untuk bulan Februari yang baru saja dirilis memberikan bukti kuat lainnya untuk kebangkitan inflasi yang kuat, dan sepenuhnya menghancurkan harapan optimis pasar sebelumnya. Data menunjukkan bahwa harga impor melonjak 1,5% dibanding bulan sebelumnya, tidak hanya naik selama tiga bulan berturut-turut, tetapi juga mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa seluruh data 'meledak' ini dihasilkan sebelum pecahnya perang di Timur Tengah kali ini. Dengan kata lain, meskipun tidak ada 'api yang menyala' dari konflik geostrategis, harga barang di AS sudah berada di tepi kendali. Ketahanan inflasi itu sendiri, ditambah dengan potensi guncangan geostrategis yang mungkin mempengaruhi harga energi ke depan, membuat penetapan kembali harga kebijakan Federal Reserve menjadi semakin kompleks.
3. Berbagi pendapat: tekanan likuidasi belum sepenuhnya hilang, logika jangka panjang tetap mendukung kenaikan.
Suki Cooper, kepala penelitian komoditas di Standard Chartered Bank, menunjukkan bahwa sebelum emas spot internasional menemukan dukungan yang lebih kuat, pasar masih perlu mencerna tekanan jual yang dihasilkan dari likuidasi posisi ETF oleh investor. Selain permintaan likuiditas, terlalu banyak posisi beli yang diperluas juga merupakan penyebab utama tekanan jual ekstrem kali ini. Sebelum pecahnya konflik, posisi jual sudah turun di bawah rata-rata lima tahun, struktur beli yang sangat sesak ini membuat pasar sangat rentan terhadap guncangan.
Meskipun demikian, Cooper memperkirakan bahwa setelah posisi rugi diselesaikan, emas spot internasional akan kembali mengalami tren naik. Dia percaya bahwa mengacu pada lingkungan stagflasi yang dipicu oleh krisis minyak tahun 1970-an, peran emas sebagai alat penyimpan nilai akan semakin terlihat saat inflasi terus melebihi ekspektasi. Dinamika makro saat ini mendukung potensi kenaikan jangka panjangnya, meskipun respons kebijakan di masa depan tetap menjadi variabel kunci yang menentukan arah pergerakan.
Dalam jangka pendek, level 3600 dolar bukan hanya merupakan level resistensi kunci secara teknis, tetapi juga tepat berada di area inti dari permainan opsi bulan April. Apakah pembuat pasar dapat memanfaatkan ekspektasi geostrategis dan kebijakan untuk menyelesaikan 'penyelamatan' ini, akan langsung mempengaruhi arah harga emas di tahap berikutnya. Sementara dalam periode yang lebih panjang, ketahanan inflasi dan potensi perubahan dalam pola perilaku bank sentral sedang bersama-sama membentuk pola pasar emas dari 'aset aman' menjadi 'normal baru perdagangan dua arah'.