PANews 11 Februari melaporkan, menurut Bloomberg, CEO Telegram Pavel Durov secara terbuka menyatakan akan menentang langkah-langkah pembatasan akses platform sosialnya oleh otoritas Rusia. Otoritas pengatur telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor, berencana mulai Selasa untuk membatasi akses ke Telegram, dengan alasan bahwa perusahaan 'masih belum mematuhi persyaratan hukum.' Durov mengkritik langkah ini sebagai pelanggaran kebebasan sipil dan menekankan bahwa Telegram akan terus berjuang untuk membela kebebasan berbicara dan privasi. Ia membandingkan strategi ini dengan praktik otoritas Iran, menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna Iran masih terus menggunakan Telegram melalui cara-cara teknis.
Sementara itu, pemerintah Rusia sedang mempromosikan aplikasi 'super' Max yang dikembangkan menyerupai model WeChat, yang mengintegrasikan layanan pemerintahan, penyimpanan dokumen, layanan perbankan, serta fungsi publik dan komersial lainnya. Sejak akhir 2025, Rusia telah mulai menerapkan pembatasan selektif pada Telegram, termasuk pembatasan fitur panggilan suara dan video.
