Filosofi politik dan pola perilaku Trump selalu berpusat pada satu gagasan inti: dunia adalah permainan zero-sum. Siapa yang memberikan paling banyak, dialah yang kalah; siapa yang mendapatkan paling banyak, dialah yang menang. Dari sudut pandang ini, esensi hubungan internasional disederhanakan menjadi kompetisi hidup dan mati, di mana setiap keuntungan pihak tertentu pasti akan mengorbankan pihak lain. Pola pikir ini tidak hanya membongkar logika dasar tatanan internasional pasca perang, tetapi juga berdampak jauh pada politik, ekonomi, dan pola keamanan global.

Konflik antara permainan zero-sum dan permainan positif-sum

Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua, ideologi utama masyarakat internasional adalah permainan positif-sum. Ide ini berpendapat bahwa kerjasama internasional dapat menciptakan kepentingan bersama, meskipun ada perbedaan dalam pembagian keuntungan, secara keseluruhan masih bisa mencapai keuntungan bersama. Logika permainan positif-sum mendukung sistem perdagangan internasional, kerangka hukum internasional, dan pembentukan aliansi multilateral, menjadi dasar bagi kemakmuran dan perdamaian global. Amerika Serikat, sebagai perancang dan pemelihara utama sistem ini, telah lama memastikan stabilitas operasi sistem ini melalui posisinya sebagai pemimpin.

Namun, kebijakan luar negeri Trump jelas menyimpang dari tradisi ini. Ucapannya menunjukkan bahwa dia lebih cenderung melihat hubungan internasional sebagai permainan zero-sum. Dalam pola pikir ini, setiap keuntungan pihak tertentu dianggap sebagai kerugian pihak lain, nilai kerjasama internasional dilemahkan, dan digantikan oleh unilateralisme dan proteksionisme. Perubahan ini tidak hanya menggoyahkan fondasi tatanan internasional, tetapi juga menantang hubungan jangka panjang Amerika dengan sekutunya.

Dampak sistem perdagangan internasional

Sistem perdagangan internasional modern dibangun di atas dasar permainan positif-sum, dengan inti ide bahwa melalui spesialisasi dan perdagangan bebas, negara-negara dapat mencapai kemakmuran bersama. Negara pengekspor mendapatkan pasar, negara pengimpor mendapatkan sumber daya, kedua belah pihak dapat saling menguntungkan. Namun, kebijakan perdagangan Trump sepenuhnya membalikkan logika ini. Dia melihat defisit perdagangan sebagai "kegagalan", dan surplus sebagai "kemenangan", serta mencoba "mengoreksi" ketidakseimbangan ini melalui tarif tinggi dan hambatan perdagangan.

Pola pikir zero-sum ini tidak hanya merugikan mitra dagang Amerika, tetapi juga berdampak jauh pada ekonomi global. Pemerintahan Trump mengenakan tarif tinggi terhadap mitra dagang utama seperti Meksiko, China, dan Kanada, serta mengancam untuk mengambil tindakan serupa terhadap Uni Eropa. Tindakan ini tidak hanya gagal mengurangi defisit perdagangan secara efektif, tetapi malah memperburuk ketidakpastian ekonomi global. Yang lebih serius, tindakan unilateralisme Amerika melemahkan reputasinya sebagai mitra dagang yang dapat diandalkan, menggoyahkan stabilitas rantai pasokan global.

Pelemahan sistem hukum internasional

Pilar lain dari tatanan internasional pasca perang adalah sistem hukum internasional yang berbasis pada aturan. Inti dari sistem ini adalah bahwa negara-negara dapat mencapai kepentingan kolektif yang lebih besar dengan mematuhi aturan dan norma yang sama. Misalnya, norma yang menentang penjajahan teritorial membuat negara tidak perlu selalu waspada terhadap agresi, sehingga mengurangi risiko perang. Meskipun mekanisme penegakan hukum internasional tidak sempurna, efek positifnya tetap memberikan jaminan penting bagi stabilitas global.

Namun, kebijakan Trump secara langsung menantang sistem ini. Dia secara terbuka meragukan nilai hukum internasional, bahkan mengajukan klaim ekstrem seperti mencaplok Greenland dan Gaza. Yang lebih serius, posisinya mengenai isu Ukraina melemahkan perlindungan hukum internasional terhadap integritas teritorial. Trump mengusulkan agar Rusia tetap mempertahankan tanah yang telah didudukinya, dan mengecualikan Ukraina dari negosiasi damai, yang tidak hanya merusak otoritas hukum internasional, tetapi juga memberikan preseden bagi tindakan agresi negara lain.

Krisis aliansi NATO

NATO, sebagai bagian penting dari sistem keamanan internasional pasca perang, keberadaannya juga didasarkan pada permainan positif-sum. Dengan berinvestasi secara bersama dalam kekuatan pencegahan, negara-negara anggota NATO dapat menghindari perang dan mencapai kepentingan keamanan yang lebih besar. Meskipun pengeluaran pertahanan Amerika di NATO jauh lebih tinggi daripada negara anggota lainnya, posisi kepemimpinan dan kepentingan strategisnya juga terjamin dengan baik.

Namun, sikap Trump terhadap NATO penuh dengan nuansa pola pikir zero-sum. Dia telah berulang kali mengkritik pengeluaran pertahanan sekutu yang dianggap tidak memadai, bahkan mengancam akan keluar dari NATO. Yang lebih serius, dia pernah menyatakan akan "mendorong" Rusia untuk "melakukan apa pun yang mereka inginkan" terhadap negara-negara anggota NATO yang pengeluaran pertahanannya rendah. Pernyataan semacam ini tidak hanya melemahkan daya pencegah NATO, tetapi juga menggoyahkan kepercayaan sekutu terhadap Amerika. Kebijakan Trump memperburuk perpecahan di dalam NATO, dan ketidakpastian dalam pola keamanan global meningkat secara signifikan.

Erosi nilai-nilai demokrasi

Sistem demokrasi itu sendiri dapat dianggap sebagai permainan positif-sum. Hanya ketika para peserta politik percaya bahwa mematuhi aturan akan membawa keuntungan yang lebih besar, demokrasi dapat berfungsi dengan stabil. Negara-negara demokrasi yang matang mencapai stabilitas dan kemakmuran jangka panjang melalui pergantian kekuasaan yang damai dan mekanisme kompetisi yang terinstitusi. Namun, tindakan Trump menantang logika ini.

Dia menolak untuk menerima hasil pemilihan umum 2020 dan menunjukkan simpati terhadap para pendukung kerusuhan Capitol pada 6 Januari, tindakan ini tidak hanya merusak prinsip-prinsip inti dari sistem demokrasi, tetapi juga melemahkan citra internasional Amerika sebagai mercusuar demokrasi. Permusuhan Trump terhadap negara-negara demokratis dan kedekatannya dengan rezim otoriter semakin menyoroti dampak pola pikir zero-sum terhadap nilai-nilai demokrasi.

Rekonstruksi tatanan global

Pola pikir zero-sum Trump tidak hanya mengubah kebijakan luar negeri Amerika, tetapi juga berdampak jauh pada tatanan global. Logika positif-sum dari tatanan internasional pasca perang digantikan oleh pola pikir zero-sum, nilai kerjasama internasional dilemahkan oleh unilateralisme dan proteksionisme. Posisi dan reputasi kepemimpinan Amerika mengalami kerusakan serius, dan ketidakpastian dalam politik, ekonomi, dan pola keamanan global meningkat secara signifikan.

Namun, pola pikir permainan zero-sum tidaklah tidak dapat dibalikkan. Masyarakat internasional masih dapat melalui kerjasama multilateral dan rekonstruksi aturan, menetapkan kembali logika permainan positif-sum. Kuncinya adalah, apakah negara-negara dapat menemukan jalur kerjasama baru di tengah dampak Trumpisme, dan membangun kembali kepercayaan terhadap tatanan internasional.

Kebangkitan Trumpisme menandai titik belok baru dalam tatanan global. Pola pikir permainan zero-sum tidak hanya menantang logika dasar tatanan internasional pasca perang, tetapi juga membawa tantangan baru bagi tata kelola global. Dalam konteks ini, masyarakat internasional perlu memikirkan kembali hubungan antara kerjasama dan kompetisi, mencari titik keseimbangan baru untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Binance Square.

\u003cc-45/\u003e

BNB
BNBUSDT
704.4
+1.12%

\u003ct-6/\u003e