Pada awal tahun 2025, pemerintah China sekali lagi memperketat langkah-langkahnya terhadap cryptocurrency. Undang-undang baru sangat membatasi peredaran mereka di daratan China. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang China terhadap cryptocurrency. Apakah langkah-langkah ini dapat menjadi inspirasi bagi negara lain?
Langkah Baru Terhadap Cryptocurrency di China
Regulasi terbaru, yang diumumkan pada 31 Desember 2024, menargetkan transaksi cryptocurrency lintas batas. Regulator valuta asing China meminta bank untuk mengidentifikasi dan memblokir transaksi yang terkait dengan cryptocurrency, memantau perilaku berisiko tinggi berdasarkan identitas peserta, sumber dana, dan frekuensi perdagangan.
Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengekang aktivitas keuangan berisiko tinggi, termasuk perjudian lintas batas dan perbankan bawah tanah. Namun, aturan baru ini meningkatkan risiko bagi individu dan institusi yang terlibat dalam transaksi crypto, mengekspos mereka pada potensi penolakan layanan perbankan dan konsekuensi hukum.
Dampak pada Sektor Cryptocurrency China
Regulasi baru ini memberikan pukulan lain pada sektor cryptocurrency China, yang sudah beroperasi dalam kondisi yang sangat tidak ramah. Perusahaan crypto besar seperti Binance dan pendiri Tron, Justin Sun, telah memindahkan operasi mereka ke luar negeri.
Tren ini menunjukkan bahwa undang-undang China akan terus menargetkan industri crypto secara berat sambil menguntungkan yuan digital yang dikendalikan negara (e-CNY) sebagai satu-satunya aset digital yang didukung pemerintah.
Sejarah Regulasi Crypto di China dan Dampaknya Secara Global
China memiliki sejarah panjang dalam menekan sektor cryptocurrency-nya. Meskipun pembatasan ini tampak domestik dalam lingkupnya, dampaknya dirasakan secara global.
China pernah menjadi kekuatan crypto. Pada tahun 2013, Baidu mulai menerima pembayaran Bitcoin, dan pada tahun 2014, Bitmain didirikan untuk menambang BTC. Pada tahun 2020, China menambang 67% dari Bitcoin dunia. Namun, dominasi ini berakhir pada tahun 2021 ketika China melarang penambangan cryptocurrency, memungkinkan AS untuk mengambil alih.
Tindakan signifikan lainnya termasuk larangan ICO 2017, yang menyebabkan harga Bitcoin jatuh, dan larangan perdagangan cryptocurrency pada tahun 2021, yang bertepatan dengan peluncuran yuan digital, yang diprioritaskan oleh China.
Apakah Negara Lain Terinspirasi oleh Pendekatan China?
Meskipun langkah-langkah China memengaruhi pasar crypto global, mereka tidak dapat dianggap sebagai model bagi negara lain. Banyak negara telah menerapkan regulasi cryptocurrency secara independen dari undang-undang China.
Misalnya, Turki melarang pembayaran crypto pada tahun 2021, Mesir memperketat regulasi pada penambangan dan perdagangan pada tahun 2020, dan Aljazair melarang cryptocurrency pada tahun 2018. Bangladesh melarang cryptocurrency sejak tahun 2014. Sebaliknya, beberapa negara, seperti Maroko, kini mempertimbangkan untuk melegalkan cryptocurrency.
Kesimpulan: China sebagai Contoh Peringatan
Alih-alih menjadi inspirasi, China menunjukkan bagaimana regulasi cryptocurrency yang ketat dapat merugikan sektor domestiknya dan menghambat inovasi. Sementara tindakan mereka memengaruhi pasar global, sebagian besar negara telah memilih jalur mereka sendiri untuk mengatur aset digital. China tampaknya lebih sebagai eksperimen daripada teladan yang sebenarnya.
#CryptoRegulation , #bitcoin , #cryptocurrencies , #ChinaCrypto , #CryptoNewss
Tetap satu langkah lebih maju – ikuti profil kami dan tetap terinformasi tentang segala hal penting di dunia cryptocurrency!
Pemberitahuan:
,,Informasi dan pandangan yang disajikan dalam artikel ini ditujukan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan tidak boleh dianggap sebagai saran investasi dalam situasi apa pun. Konten halaman ini tidak boleh dianggap sebagai saran keuangan, investasi, atau bentuk saran lainnya. Kami mengingatkan bahwa berinvestasi dalam cryptocurrency dapat berisiko dan dapat menyebabkan kerugian finansial.