Selama beberapa tahun ini, pihak platform terus menyampaikan narasi yang sama: alat itu netral; kalau kamu terus menggulir tanpa bisa berhenti, berarti kamu kurang bisa mengendalikan diri; kalau orang tua tak mampu mengawasi, jangan salahkan algoritma. Pekan lalu, Meta baru saja merogoh US$17 miliar untuk berdamai dengan 47 negara bagian—ibaratnya, mereka lebih dulu membayar untuk memadamkan api di tingkat federal.
Namun, dalam sidang kasus di Los Angeles hari ini, narasi itu tak lagi begitu ampuh. Dua penggugat berusia 16 dan 18 tahun. Mereka mulai menonton YouTube sejak usia 3 atau 4 tahun, lalu mulai menggunakan platform lain sekitar usia 9 tahun. Gugatan itu secara khusus menyoroti fitur putar otomatis dan gulir tanpa batas—fitur yang memang dirancang agar pengguna sulit berhenti. Dampaknya berupa depresi, kecemasan, dan gangguan makan. Dan ini bukan kali pertama: pada Maret tahun ini, juri dalam kasus pertama sudah memutuskan platform harus membayar US$6 juta. Platform pernah kalah.
Jadi, pertanyaannya: kalau algoritma membuat orang terus bertahan, apakah itu berarti produknya memang bagus, atau desain seperti ini memang harus dimintai pertanggungjawaban? Pilih kubu di kolom komentar: A. Kalau sengaja dirancang untuk bikin kecanduan, harus ganti rugi; B. Ponselnya ada di tangan sendiri—menyalahkan platform cuma cari kambing hitam.
$BTC $ETH $SOL #Meta #Snap #社交媒体 #SidangKecanduan