USD Memimpin Pasar FX saat Harga Minyak dan Imbal Hasil AS Meningkat
🌍 Pasar valuta asing global pada 20–25 Juli secara tegas condong ke dolar AS, seiring meningkatnya ketegangan AS-Iran yang memperbesar risiko gangguan di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah. DXY menguat sekitar 0,7–0,8%, naik dari sekitar 100,7 menjadi 101,45–101,50, sementara minyak mentah Brent diperdagangkan dalam kisaran yang fluktuatif sebesar $95–$102 per barel.
📈 Kekuatan dolar tidak hanya didorong oleh permintaan safe-haven. Klaim pengangguran awal AS turun menjadi 187.000, jauh di bawah perkiraan 210.000, sementara imbal hasil Treasury tenor 10 tahun mendekati 4,70%. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan sikap yang lebih hawkish jika harga energi yang lebih tinggi terus memicu tekanan inflasi.
🇪🇺 ECB mempertahankan suku bunga deposito tidak berubah di 2,25% dan terus memantau dampak guncangan energi. Meski PMI Komposit Zona Eropa naik menjadi 51,9—menandai kembalinya ekspansi—EUR/USD tetap turun di bawah 1,140 karena selisih imbal hasil masih tidak menguntungkan bagi euro.
🇬🇧 GBP/USD diperdagangkan di sekitar 1,331 setelah inflasi Inggris melandai menjadi 2,6%, di bawah ekspektasi. Sementara itu, USD/JPY bergerak naik mendekati 163,8 karena yen masih tertekan oleh perbedaan suku bunga yang lebar dan daya tarik safe-haven dolar yang lebih kuat.
🛢 Mata uang komoditas menunjukkan divergensi yang jelas. CAD dan NOK diuntungkan oleh harga minyak yang lebih tinggi, sementara AUD tetap relatif tangguh setelah ketenagakerjaan Australia meningkat sebesar 76.300. Sebaliknya, NZD turun sekitar 1% karena investor mengurangi eksposur terhadap aset yang sensitif terhadap risiko.
🔎 Banyak investor kini memantau area 101,8 pada DXY. Jika tembus level ini, EUR/USD berpotensi bergerak menuju 1,128–1,130 dan memungkinkan USD/JPY menguji 164,5–165. Perkembangan seputar Hormuz, pertemuan FOMC 28–29 Juli, serta keputusan BoJ pada 31 Juli akan menjadi pendorong utama pada pekan mendatang.
#Forex $XAUT $PAXG $GRAM