Saat BTC sedang naik, di kepalaku selalu ada semacam suara:
"Kenapa aku tidak beli?"
"Masih bisa ngejar sekarang?"
"Kalau tidak ngejar lagi, nanti keburu telat."
Saat sedang turun pun ada:
"Kenapa aku tidak jual?"
"Masih akan turun lagi kan?"
"Kalau sudah terlanjur, mending potong dulu—biar ruginya tidak makin besar."
Belakangan, aku sadar suara itu ternyata bukan hanya aku yang punya.
Hampir semua investor ritel mengikuti ritme yang sama:
Tidak berani mengejar → menyesal → FOMO masuk → terjebak → panik cut loss.
Berulang-ulang, seperti program yang sudah dipasang.
Aku dulu juga seperti itu.
Sampai suatu kali, aku menuliskan rencana tradingku di selembar kertas, lalu menempelkannya di samping layar.
"Kondisi beli: BTC kembali ke posisi XX"
"Kondisi jual: untung XX% atau rugi XX%"
Hari itu BTC naik 8%.
Aku tidak melakukan apa pun.
Karena syaratnya belum terpenuhi.
Itu pertama kalinya aku merasakan—rasanya tidak digiring oleh pasar.
Bukan karena kamu bisa memprediksi naik-turun, tetapi karena kamu tahu apa yang kamu inginkan.
Kamu punya kebiasaan menulis rencana trading?
Kalau iya, ketuk 1. Jika tidak, tapi ingin mulai, ketuk 2. Kalau merasa tidak berguna, ketuk 3
$BTC #交易心理 #FOMO