Federal Reserve kembali menghadapi ujian yang tidak hanya datang dari inflasi dan pasar obligasi, tetapi juga dari politik Amerika Serikat.

Menjelang pemilu tengah masa jabatan AS (midterm elections), perhatian investor mulai tertuju pada kemungkinan apakah agenda politik dapat memengaruhi kebijakan moneter. Namun Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeffrey Schmid memberikan pesan yang tegas: pemilu tidak seharusnya memengaruhi keputusan kebijakan Federal Reserve pada rapat Oktober.

Pernyataan tersebut menjadi semakin penting karena The Fed saat ini berada dalam situasi yang jauh lebih rumit dibanding beberapa bulan lalu.

Inflasi masih berada di atas target 2%, sejumlah pejabat Fed mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga, sementara pasar saham dan obligasi sangat sensitif terhadap setiap perubahan ekspektasi kebijakan.

🏦 Schmid: Kebijakan Moneter Harus Berdasarkan Ekonomi

Schmid sebelumnya sudah mengambil posisi yang relatif hawkish.

Dalam wawancara dengan Bloomberg Television di Jackson Hole pada 27 Agustus, Schmid menyatakan bahwa kebijakan moneter saat ini mungkin bersifat akomodatif, bukan restriktif. Ia menilai bahwa tingkat suku bunga saat ini sebesar 3,50%–3,75% tidak membatasi perekonomian AS "suku bunga jangka pendek bahkan mungkin memiliki sifat longgar," ujarnya. Schmid menegaskan bahwa inflasi masih "keras kepala" dan "lengket"("stubborn" and "sticky"), dan "kami harus terus mencari cara untuk menembusnya".

Schmid juga secara eksplisit menolak gagasan bahwa rapat 28 Oktober tidak dapat dijadwalkan karena pemilu, menegaskan bahwa kalender politik tidak boleh menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan moneter.

Dengan demikian, pesan Schmid mengenai pemilu sebenarnya merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar: Fed ingin pasar percaya bahwa keputusan suku bunga ditentukan oleh data ekonomi, bukan kalender politik.

📊 Mengapa Oktober Menjadi Penting?

Kalender resmi Federal Reserve menunjukkan bahwa rapat FOMC berikutnya berlangsung pada 15–16 September, kemudian 27–28 Oktober, dan dilanjutkan 8–9 Desember.

Artinya, rapat Oktober akan berlangsung hanya beberapa hari sebelum pemilu tengah masa jabatan AS pada November.

Timing ini membuat independensi Fed menjadi semakin sensitif.

· Jika Fed menaikkan suku bunga menjelang pemilu, keputusan tersebut dapat dipersepsikan secara politik.

· Jika Fed menahan atau memangkas suku bunga, pertanyaan sebaliknya juga bisa muncul.

Karena itu, Schmid pada dasarnya sedang menegaskan prinsip: Fed tidak boleh menyesuaikan kebijakan hanya karena pemilu sudah dekat.

🔥 Masalahnya: Inflasi Belum Memberikan Ruang Nyaman

Inilah alasan mengapa komentar Schmid menjadi penting.

Data terbaru yang dirilis 26 Agustus 2026 oleh Bureau of Economic Analysis menunjukkan bahwa PCE price index - indikator inflasi favorit Fed - pada Juli 2026 tercatat:

Indikator Nilai

PCE (Year-over-Year) 3,7%

Core PCE (Year-over-Year) 3,3%

PCE (Month-over-Month) 0,2%

Core PCE (Month-over-Month) 0,2%

Angka-angka ini menunjukkan inflasi masih jauh di atas target Fed sebesar 2%. Data PCE headline 3,7% tidak berubah dari Juni, sementara core PCE 3,3% masih menunjukkan tekanan harga yang persisten.

Selain inflasi, pasar tenaga kerja juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Data 7 Agustus 2026 menunjukkan ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli, jauh di bawah ekspektasi konsensus untuk penambahan 80.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran tercatat 4,1%. Sementara itu, pada 28 Agustus, revisi benchmark nonfarm payroll tahunan menunjukkan penurunan sebesar 79.000.

Dengan kondisi seperti ini, Fed memiliki alasan untuk tetap berhati-hati terhadap pelonggaran.

Bahkan beberapa pejabat mulai berbicara lebih keras:

· Presiden Cleveland Fed Beth Hammack mengatakan sudah saatnya bertindak, karena inflasi telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun. Ia memperingatkan bahwa "inflasi di atas target semakin lama, semakin sulit untuk menurunkannya kembali".

· Presiden Chicago Fed Austan Goolsbee juga menyatakan bahwa kekhawatiran terbesar saat ini adalah inflasi yang belum terkendali, dengan faktor-faktor seperti perang di Timur Tengah yang mendorong biaya energi dan kebijakan tarif yang fluktuatif.

· Presiden Boston Fed Susan Collins memberikan pernyataan bersyarat yang tegas: jika data menunjukkan inflasi tidak turun sesuai harapan, ia akan mendukung kenaikan suku bunga dalam "satu atau dua pertemuan ke depan".

Jadi meskipun pasar mungkin berharap pemangkasan suku bunga, sebagian pejabat Fed justru sedang memikirkan kemungkinan kenaikan.

⚠️ Fed Sudah Terbelah

Pada rapat FOMC 28–29 Juli 2026, The Fed mempertahankan suku bunga di 3,50%–3,75%.

Namun keputusan tersebut hanya mendapatkan dukungan 9–3. Tiga anggota termasuk Hammack, memilih kenaikan 25 basis poin.

Ini bukan detail kecil. Artinya, perdebatan internal mengenai arah suku bunga sudah cukup kuat. Bahkan sebelum memasuki Oktober, pasar harus menghadapi dua kemungkinan:

· 🕊️ Dovish: Inflasi turun → ekonomi melemah → Fed mempertimbangkan pemangkasan.

· 🦅 Hawkish: Inflasi bertahan → permintaan tetap kuat → Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga.

Dan Schmid jelas berada lebih dekat ke kubu kedua.

🇺🇸 Pemilu vs Inflasi: Mana yang Lebih Penting?

Jawaban dari perspektif kebijakan moneter seharusnya sederhana: Inflasi dan kondisi ekonomi.

The Fed memiliki mandat untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung kondisi tenaga kerja yang sehat.

Jika inflasi masih terlalu tinggi pada Oktober, Fed secara teori harus mengambil keputusan berdasarkan data tersebut meskipun pemilu tinggal beberapa minggu. Sebaliknya, jika inflasi turun secara meyakinkan dan pasar tenaga kerja melemah, Fed juga harus memiliki kebebasan untuk melonggarkan kebijakan meskipun keputusan tersebut secara kebetulan terjadi menjelang pemilu.

Tanggal pemilu tidak seharusnya menjadi variabel dalam persamaan kebijakan moneter.

💵 Pasar Sudah Mulai Memperhitungkan Risiko Kenaikan

Menariknya, pasar sendiri mulai mengubah ekspektasinya secara signifikan.

Setelah pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus 2026, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga melonjak drastis:

Instrumen Probabilitas Sebelum Probabilitas Sesudah

Kenaikan September ~35% ~57-60%

Kenaikan Desember ~74% (sebelumnya) >70%

Warsh dalam pidatonya 25 kali menyebut "inflasi" , menyatakan bahwa inflasi masih "terlalu tinggi" dan jika tidak turun dengan "kecepatan yang cukup cepat," maka "masih ada pekerjaan yang harus dilakukan". Ia juga menegaskan komitmen Fed terhadap target inflasi 2%.

Analis dari Capital Economics menyatakan bahwa mereka "sekarang lebih yakin Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, kemungkinan sebesar 25 bp pada Desember".

Angka-angka tersebut menunjukkan sesuatu yang sangat penting: Pasar tidak lagi menganggap kenaikan suku bunga sebagai skenario ekstrem. Dan jika ekspektasi kenaikan semakin kuat, tekanan terhadap aset berisiko dapat meningkat.

📉 Apa Dampaknya bagi Saham AS?

Jika Schmid dan pejabat hawkish lainnya berhasil menggeser ekspektasi pasar menuju "higher for longer" , maka saham growth dan teknologi menjadi sektor yang perlu paling diperhatikan.

Alasannya sederhana: valuasi saham teknologi sangat sensitif terhadap tingkat diskonto. Ketika yield naik, future cash flow didiskon lebih tinggi → valuation multiple tertekan.

Reaksi pasar pada 28 Agustus 2026 cukup jelas:

Indeks Perubahan

Nasdaq Composite -0,52% (turun 138,93 poin ke 26.402,42)

S&P 500 -0,25% (turun 19,23 poin ke 7.711,76)

Dow Jones -0,02%

Namun secara mingguan, Wall Street masih mencatatkan kenaikan: Dow dan S&P 500 naik 0,5%, sementara Nasdaq naik 0,9%.

Karena itu:

· Fed hawkish → Treasury yield naik → biaya modal meningkat → valuasi growth tertekan → Nasdaq berisiko melemah.

· Fed dovish → yield turun → kondisi finansial lebih longgar → saham growth mendapat ruang → Nasdaq berpotensi melanjutkan reli.

🪙 Bagaimana dengan Bitcoin dan Crypto?

Bitcoin juga tidak kebal terhadap perubahan kebijakan Fed.

Setelah pidato Warsh di Jackson Hole, Bitcoin jatuh di bawah $80.000. BTC/USD sempat menyentuh $78.442 di B*tstamp, dengan penurunan harian sekitar 1%. Lebih dari $488 juta posisi long terlikuidasi. Bitcoin akhirnya stabil di sekitar $79.000, setelah sebelumnya sempat menyentuh $81.330 pada hari yang sama.

Menariknya, penurunan ini terjadi meskipun ETF Bitcoin spot AS mencatat arus masuk selama sembilan hari berturut-turut, dengan arus masuk pada 28 Agustus mencapai $242 juta.

Jadi hubungan antara Fed dan crypto tidak selalu linear:

· Hawkish Fed biasanya negatif bagi likuiditas crypto.

· Namun kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal dan dolar dapat menciptakan narasi bullish yang berbeda.

🥇 Emas Juga Berada di Persimpangan

Pergerakan emas memberikan contoh menarik tentang dinamika ini.

Pada 27 Agustus, emas spot sempat pulih ke sekitar $4.625,83 per ounce. Namun setelah pidato hawkish Warsh pada 28 Agustus, emas spot ditutup turun 3,2% ke $4.454,23 per ounce. COMEX gold berakhir di sekitar $4.660,70.

Secara teori, suku bunga tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas karena emas tidak menghasilkan yield.

Namun emas tetap mendapatkan dukungan dari:

· ketidakpastian kebijakan;

· risiko geopolitik (terutama perang Iran);

· kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS yang telah menembus $40 triliun;

· dan ketidakpastian dolar.

Artinya, pasar emas tidak hanya membaca: "Fed naik atau turun?" Tetapi juga: "Mengapa Fed harus mempertahankan suku bunga tinggi?"

🧠 Independensi Fed Justru Menjadi Aset

Ada alasan mengapa komentar Schmid memiliki bobot lebih besar daripada sekadar pandangan mengenai suku bunga.

Jika investor percaya Fed dapat membuat keputusan tanpa tekanan politik, maka ekspektasi inflasi akan lebih terjaga.

Namun jika pasar mulai percaya bahwa kebijakan moneter dipengaruhi oleh pemilu, tekanan fiskal, atau kepentingan politik jangka pendek, konsekuensinya bisa jauh lebih besar:

· Yield obligasi dapat meningkat.

· Risk premium dapat naik.

· Dolar dapat mengalami tekanan.

· Dan biaya pendanaan pemerintah AS bisa semakin mahal.

Saat ini, 10-year Treasury yield berada di sekitar 4,67%, sementara 30-year yield mendekati 5,2% level tertinggi sejak 2007.

Karena itu, independensi Fed bukan sekadar persoalan politik. Ini merupakan bagian dari stabilitas pasar keuangan.

🔍 Pasar Perlu Memperhatikan Bukan Hanya Schmid

Schmid memang hawkish, tetapi satu pejabat tidak menentukan kebijakan FOMC sendirian.

Investor perlu melihat perkembangan pandangan seluruh komite, terutama:

· Ketua Fed Kevin Warsh yang pidato Jackson Hole-nya pada 28 Agustus 2026 menjadi fokus utama pasar;

· anggota Board of Governors;

· presiden Fed regional yang memiliki hak suara;

· data inflasi (PCE, CPI);

· data tenaga kerja (payrolls, unemployment rate);

· pertumbuhan ekonomi (GDP Q2 2026 tercatat 1,5%);

· dan kondisi pasar obligasi.

Menariknya, perhatian pasar pada 28 Agustus justru tertuju pada pidato perdana Warsh di Jackson Hole. Warsh memberikan sinyal yang lebih hawkish dari perkiraan banyak pihak, dan pasar merespons dengan cepat.

Dengan kata lain:

· Schmid memberikan sinyal hawkish.

· Warsh memperkuat sinyal tersebut dengan pidato yang jelas dan tegas.

🎯 Tiga Skenario Menuju Oktober

🟢 Skenario Bullish untuk Saham

· Inflasi mulai turun secara konsisten (core PCE di bawah 3%).

· Pasar tenaga kerja melemah lebih lanjut.

· Warsh menghindari sinyal kenaikan lebih lanjut.

· Ekspektasi pemangkasan meningkat.

· Yield turun → Nasdaq dan saham growth berpeluang menguat.

🟡 Skenario Sideways

· Inflasi tetap tinggi tetapi tidak semakin buruk (core PCE bertahan di 3,3%).

· Fed mempertahankan suku bunga.

· Pejabat Fed memberikan sinyal campuran.

· Pasar menunggu data berikutnya.

· Volatilitas meningkat, tetapi belum ada arah besar.

🔴 Skenario Bearish

· PCE dan inflasi inti kembali meningkat.

· Tenaga kerja tetap kuat.

· Ekspektasi inflasi naik.

· Lebih banyak pejabat Fed mendukung kenaikan.

· Yield melonjak → saham teknologi, crypto, dan aset berisiko menghadapi tekanan.

Dalam skenario ini, pemilu tidak menjadi alasan bagi Fed untuk menahan diri. Justru pernyataan Schmid menunjukkan bahwa kalender politik bukan pertimbangan kebijakan.

📌 Kesimpulan: Oktober Akan Menjadi Ujian Independensi Fed

Pernyataan Jeffrey Schmid memiliki pesan yang lebih besar daripada sekadar: "Pemilu tidak akan memengaruhi suku bunga."

Pesannya adalah: Federal Reserve ingin pasar percaya bahwa kebijakan moneter ditentukan oleh inflasi, tenaga kerja, pertumbuhan, dan kondisi keuangan, bukan kepentingan politik jangka pendek.

Dan situasi menuju Oktober semakin menarik:

Faktor Kondisi Terkini (29 Agustus 2026)

Suku bunga Fed 3,50% – 3,75%

PCE Inflation (YoY) 3,7%

Core PCE (YoY) 3,3%

GDP Q2 2026 1,5%

Unemployment Rate 4,1%

10-Year Treasury Yield ~4,67%

Probabilitas kenaikan September ~57-60%

Probabilitas kenaikan Desember 70%

Posisi FOMC Juli 9-3 (3 mendukung kenaikan)

Sementara itu, rapat Oktober dijadwalkan pada 27–28 Oktober 2026, hanya beberapa hari sebelum pemilu tengah masa jabatan AS.

Maka pertarungan sebenarnya bukan: Fed vs Pemilu.

Pertarungan sebenarnya adalah: Inflasi vs Suku Bunga vs Pertumbuhan.

· Jika inflasi menang, suku bunga bisa tetap tinggi, bahkan naik.

· Jika pertumbuhan melemah, ruang pelonggaran terbuka.

· Jika keduanya terjadi bersamaan, inflasi tinggi sementara ekonomi melemah, Fed akan menghadapi salah satu dilema kebijakan paling sulit.

Dan bagi investor, sinyal paling penting untuk dipantau bukan tanggal pemilu.

Pantau PCE, payrolls, Treasury yield, ekspektasi Fed, dan komentar Warsh-Schmid.

Karena ketika Oktober tiba, keputusan Federal Reserve kemungkinan akan ditentukan oleh satu hal:

Bukan siapa yang sedang berkampanye, tetapi apa yang sedang dilakukan ekonomi Amerika.

#FedSeptRateHikeOddsRiseTo57%

$BTC

BTC
BTCUSDT
78,102.2
+0.94%