Ethereum $ETH secara resmi tercatat sekitar $0,42 per koin. Harga ini terjadi pada masa-masa awal perdagangan setelah jaringan utamanya (mainnet) diluncurkan pada tahun 2015. Jika merujuk pada masa Initial Coin Offering (ICO) tahun 2014 sebelum masuk ke bursa perdagangan, ETH ditawarkan dengan harga perdana sebesar $0,30 per token.
Penurunan ke titik terendah ini dan beberapa periode kejatuhan ekstrem setelahnya disebabkan oleh kombinasi faktor teknis, keamanan, dan kondisi makro pasar kripto berikut:
. Tahap Awal Peluncuran & Kurangnya Likuiditas (2015)
Pada awal perilisannya di bursa (Agustus 2015), Ethereum merupakan teknologi baru yang belum teruji secara luas. Saat itu, konsep smart contract masih sangat asing bagi publik. Jumlah penambang (miners) serta investor yang berpartisipasi masih sangat sedikit, sehingga likuiditas yang rendah menyebabkan fluktuasi harga yang tajam dan menekan nilai ETH hingga ke titik terendahnya.
. Peretasan "The DAO" (2016)
Ketika harga ETH mulai merangkak naik, ekosistem Ethereum mengalami pukulan telak pada pertengahan 2016. Sebuah proyek besar bernama The DAO diretas, yang mengakibatkan hilangnya sekitar 3,6 juta ETH.
Dampaknya: Kepercayaan investor terguncang hebat dan memicu kepanikan di bursa.
Solusinya: Komunitas Ethereum terpaksa melakukan pemisahan jaringan (hard fork) untuk mengembalikan dana yang dicuri, yang melahirkan jaringan baru (Ethereum/ETH saat ini) dan menyisakan jaringan lama sebagai Ethereum Classic (ETC).
. Pecahnya Gelembung ICO & Crypto Winter (2018)
Setelah sempat terbang tinggi hingga menyentuh kisaran $1.400 pada awal 2018 akibat tren Initial Coin Offering (ICO), Ethereum mengalami kejatuhan pasar (bear market) yang sangat parah di akhir tahun tersebut.
Banyak proyek baru yang sebelumnya menggalang dana dalam bentuk ETH mulai menjual aset ETH mereka secara massal untuk mendanai operasional, sehingga pasar kebanjiran pasokan.
Sentimen negatif ini memperburuk kondisi pasar hingga harga ETH ambles lebih dari 90% dari puncaknya
Penurunan ke titik terendah ini dan beberapa periode kejatuhan ekstrem setelahnya disebabkan oleh kombinasi faktor teknis, keamanan, dan kondisi makro pasar kripto berikut:
. Tahap Awal Peluncuran & Kurangnya Likuiditas (2015)
Pada awal perilisannya di bursa (Agustus 2015), Ethereum merupakan teknologi baru yang belum teruji secara luas. Saat itu, konsep smart contract masih sangat asing bagi publik. Jumlah penambang (miners) serta investor yang berpartisipasi masih sangat sedikit, sehingga likuiditas yang rendah menyebabkan fluktuasi harga yang tajam dan menekan nilai ETH hingga ke titik terendahnya.
. Peretasan "The DAO" (2016)
Ketika harga ETH mulai merangkak naik, ekosistem Ethereum mengalami pukulan telak pada pertengahan 2016. Sebuah proyek besar bernama The DAO diretas, yang mengakibatkan hilangnya sekitar 3,6 juta ETH.
Dampaknya: Kepercayaan investor terguncang hebat dan memicu kepanikan di bursa.
Solusinya: Komunitas Ethereum terpaksa melakukan pemisahan jaringan (hard fork) untuk mengembalikan dana yang dicuri, yang melahirkan jaringan baru (Ethereum/ETH saat ini) dan menyisakan jaringan lama sebagai Ethereum Classic (ETC).
. Pecahnya Gelembung ICO & Crypto Winter (2018)
Setelah sempat terbang tinggi hingga menyentuh kisaran $1.400 pada awal 2018 akibat tren Initial Coin Offering (ICO), Ethereum mengalami kejatuhan pasar (bear market) yang sangat parah di akhir tahun tersebut.
Banyak proyek baru yang sebelumnya menggalang dana dalam bentuk ETH mulai menjual aset ETH mereka secara massal untuk mendanai operasional, sehingga pasar kebanjiran pasokan.
Sentimen negatif ini memperburuk kondisi pasar hingga harga ETH ambles lebih dari 90% dari puncaknya
