Arthur Hayes melihat perkembangan terbaru di Departemen Keuangan AS sebagai sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kebijakan teknis pasar obligasi. Menurutnya, Menteri Keuangan Scott Bessent sedang menggunakan mekanisme yang mengingatkan pada strategi likuiditas Janet Yellen pada 2023-dan jika likuiditas dolar kembali mengalir ke sistem keuangan, Bitcoin berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat terbesar.
Pemicu analisis tersebut adalah keputusan Treasury untuk menggandakan ukuran buyback Treasury jangka panjang dari US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi, mulai 9 September. Kebijakan itu muncul setelah yield Treasury 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007 dan utang publik AS menembus US$40 triliun.
Mengapa Hayes melihatnya bullish untuk Bitcoin?
Kuncinya adalah likuiditas, bukan sekadar suku bunga.
Hayes berpendapat bahwa ketika Treasury menggunakan neracanya untuk mengelola pasar obligasi dan pada saat yang sama berpotensi menggunakan dana Treasury General Account (TGA), uang yang sebelumnya tersimpan di rekening pemerintah dapat kembali masuk ke sistem keuangan. TGA sendiri berada sekitar US$940 miliar.
Dalam kerangka pikir Hayes, semakin besar likuiditas dolar yang tersedia, semakin besar peluang modal mengalir menuju aset dengan pasokan terbatas-termasuk Bitcoin.
Namun ada perbedaan penting: buyback saat ini belum sama dengan “uang baru dicetak”.
Bessent menegaskan bahwa Treasury tetap menjalankan jadwal penerbitan utang normal dan belum membeli satu pun obligasi berdasarkan struktur baru tersebut. Jadi, untuk saat ini, narasi “likuiditas besar masuk ke pasar” masih merupakan tesis mengenai dampak kebijakan, bukan fakta bahwa US$1 triliun telah disuntikkan.
Bitcoin sudah mulai merespons
Menariknya, pasar kripto telah bergerak lebih dulu. Bitcoin kembali mendekati US$80.000, sementara ETF Bitcoin spot AS mencatat arus masuk kuat; IBIT bahkan menerima sekitar US$1 miliar dalam sepekan, termasuk sekitar US$503 juta pada satu hari.
Tetapi reli Bitcoin tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa tesis Hayes sudah terbukti.
Yield Treasury masih tinggi dan kembali naik setelah penurunan awal. Artinya, pasar obligasi masih menghadapi tekanan dari defisit fiskal, inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta besarnya investasi sektor swasta-termasuk infrastruktur AI.
Kesimpulan
Inilah bagian paling menarik dari tesis Hayes:
Jika Treasury mulai mengutamakan stabilitas pasar obligasi melalui penggunaan neraca dan likuiditas pemerintah, Bitcoin dapat menjadi salah satu aset pertama yang merespons ekspektasi peningkatan likuiditas dolar.
Tetapi investor perlu membedakan ekspektasi likuiditas dari likuiditas yang benar-benar masuk ke sistem.
Untuk Bitcoin, tiga indikator kini menjadi sangat penting: saldo TGA, yield Treasury 10Y/30Y, dan arus ETF spot BTC.
Jika ketiganya bergerak mendukung secara bersamaan, tesis Hayes akan mendapatkan bahan bakar yang jauh lebih kuat.