Kontroversi terkini seputar kecerdasan buatan (AI) telah menghidupkan kembali perdebatan tentang siapa yang harus bertanggung jawab untuk memastikan pengembangan dan penerapan AI yang etis. Seiring dengan semakin populernya AI generatif seperti ChatGPT, pertanyaan tentang komitmen industri teknologi terhadap Etika AI atau inovasi yang bertanggung jawab terus muncul.
Biaya tersembunyi dari AI
Investigasi telah mengungkap bahwa OpenAI, perusahaan AI terkemuka yang didukung oleh Microsoft, telah mengandalkan kontraktor luar negeri bergaji rendah untuk menangani tugas sensitif berupa moderasi konten, komponen penting dalam pengembangan sistem "aman" seperti ChatGPT. Kontraktor ini, yang berbasis di Kenya, dibayar hanya $2 per jam untuk memberi label pada teks dan gambar yang mengganggu, tugas yang dilaporkan telah menyebabkan trauma psikologis yang signifikan. Setelah terungkapnya dampak pekerjaan ini, mitra outsourcing OpenAI memutuskan hubungan dengan perusahaan tersebut.
Pengungkapan ini telah mengungkap ketergantungan industri teknologi pada tenaga kerja murah dari seluruh dunia untuk melaksanakan tugas-tugas yang paling berat yang menjadi dasar kemajuan dalam AI. Hal ini terjadi pada saat tim-tim keselamatan AI terkemuka dibubarkan, meskipun industri tersebut memiliki retorika yang tinggi tentang etika.
Realitas di balik pemutarbalikan fakta hubungan masyarakat
Beberapa tokoh penting dalam industri teknologi telah menyerukan agar pengembangan AI dihentikan sementara hingga peraturan yang sesuai dapat diberlakukan. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa mengandalkan pembuat kebijakan dan perusahaan untuk membentuk masa depan AI adalah suatu kesalahan, karena hal itu mengabaikan perspektif utama. Dr. Alison Powell dari Ada Lovelace Institute telah menunjukkan bahwa wacana saat ini terlalu berfokus pada potensi kecerdasan umum buatan untuk melampaui kognisi manusia, alih-alih membahas realitas masa kini.
"Hal ini berbahaya karena berfokus pada dunia imajinasi, bukan dunia nyata tempat kita hidup," kata Powell. Ia berpendapat bahwa kemampuan pengambilan keputusan yang sering dikaitkan dengan AI mengabaikan tanggung jawab sosial di dunia nyata yang menyertai kekuatan tersebut.
Peneliti Oxford Abid Adonis juga mencatat bahwa suara kelompok terpinggirkan, yang secara langsung terpengaruh oleh AI, tidak muncul dalam perdebatan ini. "Penting untuk mendengar apa yang dikatakan kelompok terpinggirkan karena hal itu tidak muncul dalam diskusi," kata Adonis.
Kekurangan “AI yang etis”
Sudah ada bukti bias dan diskriminasi algoritmik dalam sistem AI yang saat ini digunakan, mulai dari teknologi pengenalan wajah hingga algoritma yang digunakan dalam penilaian perumahan dan pinjaman. Meskipun perusahaan teknologi mengklaim prinsip etika yang tinggi, tindakan mereka sering kali menceritakan kisah yang berbeda.
Model generatif seperti ChatGPT, yang dilatih pada sekumpulan data internet yang terbatas, pasti mewarisi bias yang ada dalam data tersebut. Kemampuan penalaran model ini yang banyak digembar-gemborkan sering kali tidak memadai jika diteliti dengan saksama. Misalnya, ChatGPT terbukti menghasilkan klaim yang jelas-jelas salah tentang orang sungguhan. Kurangnya transparansi dalam sumber data komersial untuk pelatihan AI hanya menambah kekhawatiran ini.
Perspektif yang lebih luas tentang etika AI
Dr. Powell menyarankan agar kita tidak memandang etika sebagai masalah teknis yang harus dipecahkan, tetapi lebih baik meneliti konteks sosial tempat terjadinya kerusakan. “AI adalah mesin institusional, mesin sosial, dan mesin budaya,” katanya. Berfokus hanya pada penyesuaian algoritme mengabaikan fakta bahwa pengucilan sering kali berasal dari institusi dan budaya di sekitar teknologi tersebut.
Menurut peneliti Abid Adonis, wacana dan norma publik yang kuat akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan inovasi. “Paradigma akan membentuk koridor inovasi,” katanya. Memastikan akuntabilitas berarti menegakkan hukum yang ada secara adil, bukan sekadar mengatur teknologi itu sendiri.
Seiring dengan semakin menonjolnya AI, memastikan bahwa AI menghasilkan hasil yang adil merupakan tanggung jawab yang harus dibagi antara perusahaan teknologi, pembuat kebijakan, peneliti, media, dan publik. Namun, wacana saat ini sangat condong ke pihak yang memiliki kekuasaan paling besar. Untuk melangkah maju, kita perlu menyertakan perspektif yang lebih luas tentang potensi jebakan AI, sehingga kita dapat mengembangkan teknologi etis yang benar-benar memenuhi kebutuhan manusia. Ini mengharuskan kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar propaganda perusahaan teknologi besar dan menghadapi kerugian nyata yang saat ini terjadi.

