1. Yang perlu dipikirkan: perenungan yang berlebihan
Banyak psikolog mendefinisikan perenungan sebagai spiral pemikiran patologis.
Penelitian telah menemukan bahwa perenungan sangat berkorelasi dengan gejala depresi, dan semakin sering Anda merenung, semakin lama depresi tersebut berlangsung.
2. Mentalitas utilitarian: Hitung secara akurat rasio input-output Anda sendiri
Di tempat kerja atau di tempat kerja, anggapan ini bisa dimengerti. Namun menggunakan ROI (rasio input-output) sebagai satu-satunya penilaian nilai pada dasarnya adalah semacam objektifikasi diri yang tidak disadari.
3. Percaya bahwa “jika orang lain bisa melakukannya, saya juga bisa”
Ini adalah pandangan hidup yang didorong oleh keinginan untuk menang dan kalah. Membandingkan kekurangan diri sendiri dengan kelebihan orang lain adalah hal yang tidak perlu dan hanya akan menambah gesekan internal.
Mentalitas yang tidak sehat ini juga dapat membuat orang menjadi tidak puas secara membabi buta, mengejar tujuan yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan kehilangan tujuan yang benar-benar sesuai dengan keinginannya.
4. “Pemikiran bagaimana-jika”: terjerumus ke dalam lingkaran “peristiwa-peristiwa dengan probabilitas kecil yang semakin besar”
Amplifikasi yang tak terhingga ini akan meningkatkan kecemasan, dan kecemasan akan mendorong kita untuk terlalu bersiap (over-prepared) menghadapi peristiwa-peristiwa yang kemungkinannya kecil, dan persiapan yang berlebihan ini pada gilirannya akan semakin merangsang kecemasan, sehingga membentuk siklus kecemasan.
5. “Pemikiran protagonis” yang egosentris
Orang-orang dengan "pemikiran protagonis" memiliki seperangkat pola dan aturan yang kaku di dalam hati mereka, dan semua orang, benda, dan benda harus sesuai dengan seperangkat aturan yang telah ditetapkan ini.
Hal ini akan mengurangi fleksibilitas kita dalam menyelesaikan masalah. Begitu segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan, kita akan kehilangan kendali terhadap lingkungan sekitar karena perubahan yang tidak terduga, bahkan mengalami gangguan emosi.
Dalam proses bergaul dengan orang lain, “pemikiran protagonis” juga akan meningkatkan frekuensi konflik.