Dalam wawancara terbaru dengan The Verge, Demis Hassabis, CEO Google DeepMind, berbagi wawasan penting tentang masa depan AI dan kemajuan yang dicapai oleh DeepMind. Wawancara tersebut menyoroti penggabungan Google Brain dan DeepMind, keberhasilan ChatGPT, potensi AI non-generatif, masa depan chatbot AI, dan jalur menuju AGI.
Kredit: Metaverse Post (mpost.io)
Penggabungan Google Brain dan DeepMind, menurut Hassabis, merupakan langkah maju menuju integrasi AI ke dalam produk sehari-hari. Hal ini menandakan transisi AI dari lingkungan laboratorium terbatas ke aplikasi yang meluas. Peluncuran ChatGPT dan popularitas chatbot selanjutnya menunjukkan AI mampu melakukan tugas-tugas yang sebelumnya dianggap eksklusif untuk kemampuan manusia, seperti menulis surat, membuat rencana, dan membuat kode.
Hassabis menekankan bahwa ada banyak produk AI non-generatif yang layak mendapat pengakuan. Ia menyarankan bahwa fokus mungkin akan beralih ke produk-produk ini dalam beberapa tahun mendatang, yang menyoroti luasnya kemungkinan di luar AI generatif.
Mengenai chatbot AI, DeepMind memiliki visi yang sama dengan Microsoft. Kedua perusahaan melihat chatbot berevolusi menjadi asisten AI universal yang dapat membantu individu dalam aktivitas sehari-hari mereka. Namun, chatbot saat ini masih kurang memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mengingat informasi, sehingga menyoroti area yang perlu dikembangkan lebih lanjut.
Hassabis menyoroti tahap berikutnya dalam evolusi AI, yang melibatkan interaksi berbagai model. Pendekatan ini akan melibatkan model bahasa dan pembelajaran (LLM) yang bertanggung jawab atas komunikasi dan pemahaman, sementara model khusus lainnya menjalankan tugas-tugas tertentu. Interaksi kolaboratif antara model-model ini dapat mendorong kemajuan menuju AGI, yang merujuk pada sistem yang sangat otonom yang mengungguli manusia dalam sebagian besar pekerjaan yang bernilai ekonomis.
Saat membahas jadwal AGI, Hassabis memberikan perkiraan yang hati-hati, dengan menyatakan bahwa AGI mungkin dapat dicapai dalam 10 tahun ke depan, tetapi ketidakpastian tetap ada. Pengembangan AGI memerlukan kemajuan signifikan dalam berbagai domain AI dan menimbulkan tantangan kompleks yang memerlukan eksplorasi yang cermat.
Saya sempat berdiskusi menarik dengan @ezraklein tentang bagaimana AI dapat membantu memecahkan tantangan global. Saya juga berbagi beberapa rekomendasi buku yang saya harap dapat menginspirasi pemikiran menarik tentang masa depan. https://t.co/dy8tz3d9ir
— Demis Hassabis (@demishassabis) 13 Juli 2023
Demis Hassabis: Sang Ahli Catur yang Beralih Menjadi Pelopor Kecerdasan Buatan
Demis Hassabis kelahiran London, yang terkenal karena kecakapan akademis dan bakatnya yang luar biasa dalam catur, telah muncul sebagai tokoh terkemuka di bidang AI. Dari prestasi awalnya sebagai master catur hingga ikut mendirikan DeepMind Technologies dan akhirnya bergabung dengan Google, Hassabis telah memainkan peran penting dalam memajukan penelitian dan pengembangan AI.
Sumber: EPFL / Demis Hassabis
Di usia mudanya yang ke-13, Hassabis meraih pangkat master catur, mengamankan peringkat tertinggi kedua di dunia di antara pemain di bawah usia 14 tahun. Keberhasilan awal ini menjadi pertanda prestasinya di masa depan di dunia teknologi. Memulai kariernya di Bullfrog Productions, ia memainkan peran penting dalam desain dan pemrograman permainan populer Theme Park. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di bidang Ilmu Komputer Tripos di Universitas Cambridge, tempat ia lulus dengan pujian kelas satu pada tahun 1997.
Setelah bekerja di Bullfrog, Hassabis mendirikan Elixir Studios, sebuah usaha yang berkembang pesat dengan lebih dari 60 karyawan dan menjalin kemitraan dengan penerbit besar seperti Vivendi Universal dan Microsoft. Kecintaannya pada game dan teknologi mendorong ambisinya lebih jauh.
Perjalanan Hassabis berubah saat ia beralih ke ilmu saraf kognitif, dengan fokus pada cara kerja rumit ingatan dan amnesia. Ia meraih gelar doktor dalam ilmu saraf kognitif di University College London pada tahun 2009, dengan melakukan penelitian yang berpengaruh di bidang tersebut. Keahliannya meluas hingga ke Unit Ilmu Saraf Komputasional Gatsby di UCL, tempat ia mengeksplorasi hubungan antara ilmu saraf dan AI.
Pada tahun 2011, Hassabis mendirikan DeepMind Technologies, perusahaan rintisan AI yang berpusat di London, bersama Shane Legg dan Mustafa Suleyman. Karya mereka menarik perhatian Google, yang berujung pada akuisisi DeepMind senilai £400 juta pada tahun 2014. Akuisisi ini memperkuat kemampuan AI Google, dengan mengintegrasikan teknologi dan bakat mutakhir ke dalam bisnis mereka yang berfokus pada pencarian.
Fokus DeepMind dalam mengembangkan sistem AI yang mampu berpikir spontan dan mandiri, mirip dengan kognisi manusia, sejalan dengan visi Hassabis untuk masa depan. Keterampilan kepemimpinannya, semangat kompetitif, dan kemampuannya untuk menginspirasi tim telah berkontribusi pada keberhasilannya dalam mendorong inovasi AI ke depan.
Hassabis dan timnya telah menjaga kerahasiaan proyek mereka, dengan tidak memberikan komentar dan wawancara publik. Sifat misterius yang menyelimuti DeepMind semakin menambah daya tariknya.
Baca lebih lanjut tentang AI:
Google Gabungkan DeepMind dan Google Brain untuk Mempercepat Penelitian AI
Agen AI Adaptif Baru DeepMind, Ada, Hampir Sama Cerdasnya dengan Manusia
AlphaZero dari DeepMind Mempelajari Algoritma Penyortiran yang Efisien dalam Optimasi Jaringan Neural
Postingan CEO DeepMind Demis Hassabis Bertekad Meraih AGI Dalam 10 Tahun muncul pertama kali di Metaverse Post.


