Mastercard, penyedia layanan keuangan terkemuka, telah memperkenalkan alat inovatif berbasis AI yang dirancang untuk memberdayakan bank dalam perjuangan mereka melawan penipuan dan penipuan pembayaran. Solusi mutakhir, yang dikenal sebagai “Risiko Penipuan Konsumen,” memanfaatkan kekuatan kecerdasan buatan dan memanfaatkan data transaksi bertahun-tahun dari bank mitra di Inggris. Dengan meneliti kumpulan data yang sangat besar ini, sistem AI dapat memprediksi dan mencegah upaya transfer dana ke rekening yang sebelumnya terkait dengan “penipuan pembayaran push resmi”.
Di masa lalu, jenis penipuan ini telah menimbulkan tantangan besar bagi bank, karena penipu mengeksploitasi celah yang memungkinkan nasabah mentransfer dana tanpa melanggar tindakan keamanan apa pun. Namun, tujuan Mastercard adalah menggunakan AI yang memungkinkan bank mengidentifikasi dan melakukan intervensi dalam skenario tersebut secara real-time, sehingga pada akhirnya melindungi keuangan nasabahnya.
Ajay Bhalla, Presiden Cyber dan Intelijen di Mastercard, menekankan pentingnya alat yang didukung AI ini, dengan menyatakan, “Pelanggan mereka melewati semua cek yang diperlukan dan mengirimkan sendiri uangnya; penjahat tidak perlu melanggar tindakan keamanan apa pun.” Dengan penerapan teknologi ini, bank dapat secara proaktif mengidentifikasi transaksi mencurigakan dan mencegah penipuan transfer sebelum terjadi kerugian moneter.
Pengumuman Mastercard menyoroti pengalaman luas perusahaan dalam memanfaatkan AI selama dekade terakhir, menjadikannya sebagai teknologi dasar dalam operasi mereka. Solusi ini telah mendapat dukungan dari sembilan bank besar di Inggris, termasuk Lloyds Bank, Halifax, Bank of Scotland, NatWest, Monzo, dan TSB.
Meskipun awalnya diterapkan pada bank-bank yang berbasis di Inggris, Mastercard secara aktif terlibat dalam diskusi mengenai perluasan solusi ini secara global. Klien dari Amerika Serikat, India, dan Australia telah menyatakan minatnya dan menekankan potensi dampak alat bertenaga AI ini pada skala global.
Upaya Mastercard dalam mengembangkan teknologi lebih dari sekadar deteksi penipuan. Perusahaan sebelumnya telah membuat kemajuan di Web3 dan ruang aset digital. Pada bulan April, mereka memperkenalkan solusi verifikasi pengguna Web3 yang bertujuan untuk meningkatkan standar dan mengurangi risiko pelaku kejahatan di sektor aset digital. Selain itu, Mastercard meluncurkan program akselerator untuk musisi, yang mengharuskan peserta mendapatkan token nonfungible (NFT) untuk berpartisipasi.
Implikasi dari alat berbasis AI milik Mastercard dalam memerangi penipuan dan penipuan pembayaran melampaui perbankan tradisional. Dengan semakin menonjolnya mata uang kripto dan teknologi blockchain, kemajuan dalam deteksi penipuan juga berpotensi meningkatkan langkah-langkah keamanan dalam sektor kripto. Dengan memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi dan mencegah transaksi penipuan, alat ini dapat berkontribusi pada perlindungan individu dan bisnis yang terlibat dalam transaksi aset digital.
