Apa Itu Wall Street?
Wall Street secara harfiah adalah sebuah jalan yang terletak di New York City di ujung selatan Manhattan. Secara kiasan, Wall Street jauh lebih dari itu. Ini identik dengan industri keuangan dan perusahaan-perusahaan di dalamnya. Konotasi ini berakar pada fakta bahwa begitu banyak pialang dan bank investasi secara historis telah mendirikan kantor pusat mereka di dalam dan sekitar jalan tersebut. Semua itu untuk lebih dekat dengan Bursa Efek New York (NYSE).
Berada di atau dekat Wall Street tidak lagi dianggap penting bagi lembaga keuangan. Faktanya, saat ini mereka terletak di seluruh negeri. Namun, istilah "Wall Street" masih berarti bisnis—bisnis investasi—dan kepentingan, motivasi, serta sikap para pelakunya.
POIN-POIN PENTING
Wall Street adalah sebuah jalan yang terletak di bagian Lower Manhattan, Kota New York.
Wall Street digunakan sebagai istilah umum untuk menggambarkan pasar keuangan dan perusahaan-perusahaan yang diperdagangkan secara publik di bursa saham di seluruh AS.
Secara historis, Wall Street telah menjadi lokasi beberapa perusahaan pialang dan perbankan investasi terbesar di AS, dan juga merupakan tempat berdirinya Bursa Efek New York (NYSE).
Wall Street sering kali dikontraskan dengan Main Street, yang terakhir merupakan metafora untuk usaha kecil dan investor individu.
Peristiwa yang terjadi di atau sekitar Wall Street sering kali berdampak tidak hanya pada industri investasi, tetapi juga pada ekonomi AS (dan bahkan global).
Memahami Wall Street
Wall Street dan lingkungan sekitarnya di selatan Manhattan—yang dikenal penduduk setempat sebagai Distrik Keuangan—tetap menjadi lokasi penting tempat sejumlah lembaga keuangan berpusat. Namun, globalisasi dan digitalisasi keuangan dan investasi telah menyebabkan munculnya banyak perusahaan pialang, penasihat investasi terdaftar, dan perusahaan investasi AS yang berlokasi di tempat lain.
Meskipun demikian, Wall Street tetap menjadi nama kolektif untuk pasar keuangan, perusahaan-perusahaan yang melakukan perdagangan publik, dan komunitas investasi itu sendiri. Bursa saham, perusahaan perbankan investasi, bank komersial, perusahaan pialang dan pialang efek, jasa keuangan, dan perusahaan penjamin emisi semuanya melambangkan Wall Street.
Ini adalah ungkapan yang diakui secara global yang, sampai batas tertentu, selalu merujuk pada sistem keuangan AS. Baik NYSE (bursa saham terbesar di dunia) maupun Federal Reserve Bank of New York—yang bisa dibilang bank regional terpenting dari Sistem Federal Reserve—berbasis di wilayah Wall Street.
Wall Street sering disingkat menjadi "the Street," yang merupakan cara istilah tersebut sering digunakan oleh kalangan keuangan dan media. Misalnya, ketika melaporkan pendapatan perusahaan, seorang analis mungkin membandingkan pendapatan perusahaan dengan apa yang diharapkan oleh Wall Street. Dalam hal ini, analis membandingkan pendapatan perusahaan dengan apa yang diharapkan oleh analis keuangan dan perusahaan investasi untuk periode tersebut.
Pentingnya Wall Street
Wall Street telah memberikan dampak penting baik secara ekonomi maupun budaya.
Pentingnya Ekonomi
Amerika Serikat adalah ekonomi terbesar di dunia dan Kota New York adalah pusat keuangannya. Karena itu, pentingnya Wall Street secara global tidak tertandingi.
Wall Street terdiri dari beberapa lembaga keuangan terbesar di dunia dan mempekerjakan ratusan ribu orang. Di sana terdapat bursa saham NYSE dan Nasdaq, dua bursa saham terbesar di dunia. Di bursa-bursa ini terdaftar beberapa perusahaan terbesar, termasuk Amazon, Google, Apple, dan Exxon.
Pentingnya Wall Street secara ekonomi meluas ke seluruh perekonomian Amerika dan internasional, karena banyak perusahaan keuangan melakukan bisnis di seluruh dunia, memberikan pinjaman kepada berbagai bisnis dan individu, serta membiayai proyek-proyek global berskala besar.
Pentingnya Budaya
Pengaruh budaya Wall Street meluas ke film, acara TV, buku, dan banyak lagi. Film-film seperti Wall Street, Margin Call, Boiler Room, Barbarians at the Gate, dan banyak lagi dari dekade sebelumnya, menyoroti bagaimana kehidupan serba cepat di Wall Street. Film-film tersebut menampilkan gaya hidup yang menarik, kaya, dan penuh intrik.
Para pemain besar di Wall Street telah menjadi ikon selebriti. Warren Buffett, Jamie Dimon, Carl Icahn, Bernie Madoff, George Soros, dan Larry Fink adalah nama-nama yang dikenal banyak orang. Dalam imajinasi sebagian masyarakat kontemporer, istilah Wall Street mungkin membangkitkan rasa kekuasaan, kaum elit, dan seringkali, perilaku yang tidak bermoral.
Pada masa-masa sulit ekonomi, seperti krisis keuangan tahun 2008, Wall Street terkadang menjadi kambing hitam dan berbagai masalah ekonomi disalahkan pada keserakahan yang dianggap melekat padanya. Tidak ada istilah keuangan lain yang begitu menyatu dengan budaya global.
Sejarah Wall Street
Wall Street mendapatkan namanya dari tembok kayu yang dibangun oleh kolonis Belanda di Lower Manhattan pada tahun 1653 untuk mempertahankan diri dari Inggris dan penduduk asli Amerika. Tembok itu dihancurkan pada tahun 1699, tetapi namanya tetap melekat.1
Mengingat kedekatannya dengan pelabuhan New York, area Wall Street menjadi pusat perdagangan yang ramai pada tahun 1700-an. Asal-usulnya sebagai pusat keuangan dimulai pada tahun 1792, ketika 24 pialang dan pedagang paling terkemuka di AS menandatangani Perjanjian Buttonwood. Mereka dilaporkan berkumpul di Wall Street, di bawah pohon buttonwood, untuk melakukan bisnis.21
Perjanjian tersebut menguraikan bentuk perdagangan sekuritas berbasis komisi yang umum. Pada intinya, ini merupakan upaya untuk mendirikan bursa saham khusus anggota. Beberapa sekuritas pertama yang diperdagangkan adalah obligasi perang dan saham lembaga-lembaga seperti Bank of New York.32
Dari kesepakatan kecil inilah tumbuh pohon ek yang kemudian menjadi NYSE. Pada tahun 1817, para pialang Buttonwood mengubah nama mereka menjadi The New York Stock and Exchange Board. Organisasi ini menyewa ruang untuk perdagangan di beberapa lokasi hingga tahun 1865, ketika mereka menetapkan lokasi sendiri di sudut Jalan Wall dan Broad.1
Jalan Broad Nomor 18
Lokasi jantung Wall Street, NYSE, adalah bangunan Neo-Klasik tahun 1903 yang terbuat dari marmer putih. Bangunan tambahan yang bersebelahan, dibangun pada tahun 1922, terletak di 11 Wall Street, dan bangunan tambahan lainnya berada di 20 Broad Street. Ketiga bangunan ini memenuhi blok yang dibatasi oleh Wall Street di utara, Broad Street di timur, Exchange Place di selatan, dan New Street di barat.4
Seiring pertumbuhan Amerika Serikat, beberapa bursa utama lainnya mendirikan kantor pusat di wilayah Wall Street. Ini termasuk New York Mercantile Exchange, New York Board of Trade, New York Futures Exchange (NYFE), dan American Stock Exchange, yang sekarang dikenal sebagai NYSE American Options.
Untuk mendukung bursa dan berada di pusat kegiatan, bank, perusahaan pialang, dan para pelaku keuangan memusatkan kantor mereka di sekitar Wall Street. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, House of Morgan, yang secara resmi bernama J.P. Morgan & Co.—pendahulu JP Morgan Chase dan Morgan Stanley—berada tepat di seberang NYSE, di 23 Wall Street.
Setelah Perang Dunia I, Kota New York melampaui London dan menjadi pusat keuangan terbesar dan terpenting di dunia.
Wall Street vs. Main Street
Wall Street sering dibandingkan dan dikontraskan dengan Main Street. Istilah "Main Street" digunakan sebagai metafora untuk investor individu, usaha kecil, karyawan, dan perekonomian secara keseluruhan. Istilah ini berasal dari nama umum untuk jalan utama suatu kota tempat sebagian besar bisnis lokal berada.
Seringkali terdapat persepsi konflik antara tujuan, keinginan, dan motivasi masyarakat umum (Main Street) dan masyarakat bisnis (Wall Street). Wall Street cenderung mewakili bisnis besar dan lembaga keuangan, sementara Main Street mewakili toko-toko kecil, perusahaan kecil, dan individu.
Peristiwa Penting di Wall Street
Peristiwa yang terjadi di atau sekitar Wall Street sering kali berdampak tidak hanya pada industri investasi, tetapi juga pada ekonomi dan masyarakat global. Berikut adalah beberapa momen penting dalam sejarah Wall Street.
1889: The Wall Street Journal
Pada tanggal 8 Juli 1889, Charles Dow, Edward Jones, dan Charles Bergstresser meluncurkan The Wall Street Journal, sebuah surat kabar sore empat halaman yang dikhususkan untuk berita keuangan dan bisnis yang objektif. Ketiga pria itu adalah wartawan, tetapi Dow juga seorang ahli perhitungan angka yang mencetuskan ide untuk membuat daftar acuan perusahaan dan harga sahamnya untuk mewakili seluruh pasar saham.5
Tak lama kemudian, Journal mulai menerbitkan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) bersama dengan ratusan harga saham perusahaan, obligasi, dan kontrak berjangka, serta suku bunga acuan rata-rata untuk pinjaman bank. Selama hampir satu abad, sebelum munculnya daftar internet secara real-time, Journal adalah surat kabar rujukan untuk pasar keuangan.
Jurnal ini kemudian berkembang menjadi majalah yang terbit enam hari seminggu (dan telah tersedia secara daring sejak tahun 1996). Jurnal ini merupakan sumber jurnalisme keuangan dan bisnis yang terkemuka dan sangat dihormati.
Ketiga pendiri tersebut beroperasi dari kantor di Lower Manhattan. Fakta bahwa mereka memilih untuk menamai publikasi baru mereka The Wall Street Journal menunjukkan bahwa Wall Street sudah menjadi istilah umum untuk dunia keuangan dan para pelakunya. Selama bertahun-tahun, surat kabar ini membantu memantapkan makna tersebut di benak publik.
1920: Pengeboman Wall Street
Sekitar tengah hari pada tanggal 16 September 1920, sebuah gerobak yang ditarik kuda berhenti di 23 Wall Street, tepat di depan kantor pusat J.P. Morgan & Co. Di sudut lingkungan yang ramai itu, tempat tersebut sangat padat dengan orang-orang yang hendak makan siang. Tiba-tiba gerobak itu meledak. Gerobak itu telah diisi dengan dinamit dan pemberat jendela yang beterbangan di udara.
Pada saat itu, itu adalah pemboman domestik terburuk dalam sejarah AS. Pada akhirnya, 40 orang tewas atau meninggal karena luka-luka mereka, dan 300 lainnya terluka. Bagian dalam gedung J.P. Morgan hancur total. Bekas pecahan peluru masih terlihat di bagian luar gedung.7
Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab dan kasus itu tidak pernah terpecahkan. Tetapi karena ledakan terjadi di depan gedung Morgan, yang dikenal sebagai simbol kapitalisme Amerika, pemboman itu akhirnya diputuskan sebagai tindakan terorisme yang dilakukan oleh "Kaum Merah"—anarkis dan simpatisan komunis. Tumpukan selebaran anarkis yang ditemukan di kotak pos satu blok dari Wall Street mendukung teori ini.7
Akibatnya, pihak berwenang menangkap ratusan orang yang dicurigai sebagai komunis dan mendeportasi mereka yang berkewarganegaraan asing. Pengeboman itu juga mendorong sentimen nativisme yang berkembang di AS selama tahun 1920-an, yang menyebabkan pembatasan imigrasi yang lebih ketat.7
1929: Krisis Pasar Saham
Kejatuhan pasar saham tahun 1929 tetap menjadi krisis keuangan terburuk dalam sejarah AS. Di era perdagangan pra-digital, pusatnya adalah Bursa Saham New York (NYSE).
Kejatuhan pasar saham dimulai pada 24 Oktober ketika, setelah hampir satu dekade pertumbuhan yang tak tertandingi dan tanpa gangguan, pasar saham dibuka lebih rendah daripada sesi sebelumnya. Harga saham terus turun sepanjang hari dan, seiring berita menyebar, kerumunan orang mulai berkumpul di luar Bursa Efek.8
Mereka mengerang ketika pasar kembali ditutup pada hari itu, bersorak gembira untuk para pialang selama dua hari berikutnya ketika pasar tampaknya pulih, dan kemudian panik pada tanggal 28 dan 29 Oktober, ketika penurunan berlanjut. Di dalam bursa saham, suasananya benar-benar kacau karena harga jatuh terlalu cepat sehingga pita ticker dan papan tulis tidak sempat mencatatnya.8
Pada akhirnya, DJIA jatuh 89% dari puncaknya pada September 1929, menghapus kekayaan perusahaan dan individu.8
Krisis tersebut mengantarkan pada Depresi Besar. Seperempat dari populasi pekerja Amerika kehilangan pekerjaan mereka karena ekonomi AS mengalami kemerosotan. Ekonomi di seluruh Eropa mengikuti jejaknya. Pada akhirnya, krisis pasar saham dan depresi yang berlangsung selama satu dekade berikutnya secara langsung berdampak pada hampir setiap segmen masyarakat dan mengubah perspektif serta hubungan seluruh generasi terhadap pasar keuangan.9
1987: Kecelakaan Black Monday
Pada hari yang dikenal sebagai Black Monday, 19 Oktober 1987, Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 25% nilainya, menyebabkan bursa saham di seluruh dunia mengalami penurunan serupa. Seminggu sebelumnya, indeks telah turun sekitar 10%, memicu kepanikan yang terjadi kemudian. Hingga saat itu, pasar saham telah berada dalam tren bullish sejak tahun 1982.
Berkat tindakan ketua Alan Greenspan dan Federal Reserve, bencana yang tampaknya akan terjadi dalam skala global berhasil dihindari. Namun, krisis tersebut menyoroti potensi gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh teknik baru saat itu, yaitu program komputer yang memicu perdagangan dalam skala besar (meskipun perdagangan dalam jumlah besar juga ditangani oleh manusia pada hari itu).
Penyebab pasti dari penurunan pasar jangka pendek ini belum pernah dapat dipastikan. Namun, setelah itu, bursa menerapkan aturan penghentian perdagangan (circuit breaker) untuk mencegah perdagangan program memicu aksi jual yang tak terkendali. Diharapkan bahwa pembatasan perdagangan ini dan pembatasan lainnya akan memberi waktu bagi pasar untuk stabil dan memberi kesempatan kepada regulator (dan investor) untuk mengambil langkah-langkah yang tepat.
2007-2008: Krisis Keuangan Global
Krisis keuangan global tahun 2007-2008 merupakan akibat dari bertahun-tahun deregulasi, kredit mudah, praktik pemberian pinjaman hipotek yang merugikan, runtuhnya pasar hipotek subprime, dan penggunaan derivatif yang tidak diatur. Hal ini menyebabkan Resesi Besar. Akar penyebab krisis tersebut adalah perilaku tidak etis dan eksploitatif oleh bank, bank investasi, dan perusahaan asuransi.
Para peminjam dengan riwayat kredit yang kurang memuaskan diberi pinjaman hipotek tanpa mempertimbangkan kemampuan mereka untuk melunasinya dan tanpa pemahaman mereka tentang risiko yang terkait dengan pinjaman tersebut. Seiring kenaikan suku bunga, suku bunga hipotek para peminjam tersebut meningkat dan mereka tidak mampu membayar cicilan bulanan. Terlebih lagi, karena harga rumah turun drastis, pemilik rumah tidak dapat menjual rumah mereka dengan harga yang cukup untuk menutupi pinjaman mereka. Hal ini menyebabkan jumlah gagal bayar yang sangat besar.
Sekuritas derivatif berisiko telah diciptakan dengan pinjaman hipotek subprime yang dijual oleh bank. Selain itu, bank dan investor besar lainnya menggunakan simpanan nasabah untuk berinvestasi dalam derivatif ini. Dengan terjadinya gagal bayar pinjaman rumah, nilai derivatif tersebut anjlok.
Banyak lembaga keuangan memiliki keterkaitan dengan pinjaman, derivatif, dan credit default swap, yaitu produk asuransi yang dibeli investor derivatif untuk melindungi diri dari risiko gagal bayar. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan serius setelah gelembung pasar perumahan meledak.
Dari kehancuran industri perumahan hingga industri keuangan AS yang berada di ambang kehancuran, hingga hampir hancurnya sistem keuangan lainnya di seluruh dunia. Ini adalah krisis keuangan terburuk sejak jatuhnya pasar saham tahun 1929.
Pemerintah AS tidak punya pilihan selain menyelamatkan lembaga-lembaga keuangan yang selalu dianggap "terlalu besar untuk bangkrut."
2011: Gerakan Occupy Wall Street
Occupy Wall Street adalah gerakan protes tahun 2011 melawan ketidaksetaraan sosial dan ekonomi yang berpusat di Zuccotti Park, yang terletak di Distrik Keuangan Manhattan. Gerakan ini dimulai pada 17 September, ketika ratusan demonstran berkemah di taman tersebut. Polisi secara paksa membubarkan dan menangkap mereka dua bulan kemudian, pada 15 November. Selama periode tersebut, terjadi pawai dan pidato, menyerukan distribusi pendapatan yang lebih seimbang, pekerjaan dengan gaji lebih baik, reformasi perbankan, dan pengurangan pengaruh korporasi dalam politik. "Kami adalah 99%," adalah slogan para demonstran Occupy.
Regulasi Wall Street
Setelah Krisis 1929
Berbagai langkah pengaturan diberlakukan untuk mengatasi kurangnya pengawasan pemerintah yang dianggap sebagai penyebab krisis yang dimulai pada tahun 1929. Antara lain, Undang-Undang Sekuritas tahun 1933 mewajibkan lembaga keuangan untuk memberikan kepada investor semua informasi penting tentang sekuritas yang ditawarkan untuk dijual. Undang-undang ini juga melarang penipuan dalam penjualan sekuritas. Undang-Undang Bursa Sekuritas tahun 1934 membentuk Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) dan memberikannya kekuasaan yang signifikan atas industri sekuritas. Ini termasuk wewenang untuk mengatur perusahaan pialang dan mewajibkan pelaporan keuangan oleh perusahaan yang terdaftar di bursa saham.
Setelah Krisis Keuangan 2007-2008
Pada tahun 2010, Kongres mengesahkan Undang-Undang Reformasi Wall Street dan Perlindungan Konsumen Dodd-Frank (Dodd-Frank). Undang-undang ini menciptakan lembaga pemerintah baru dengan pengawasan sistem keuangan. Gagasan di balik undang-undang ini adalah untuk mengatasi perilaku berisiko lembaga keuangan dan kurangnya pengawasan regulasi yang menyebabkan krisis. Salah satu area yang menjadi perhatian serius adalah praktik pemberian pinjaman hipotek yang merugikan. Fokus lainnya adalah stabilitas lembaga keuangan. Undang-undang ini memungkinkan likuidasi atau restrukturisasi perusahaan, jika perlu, untuk mencegah penggunaan dana pembayar pajak untuk menjaga kelangsungan operasional mereka.
Aturan Volker dalam undang-undang tersebut membatasi praktik investasi bank dan sekuritas derivatif yang diatur. Undang-undang ini juga membentuk Kantor Peringkat Kredit SEC untuk memastikan bahwa lembaga pemeringkat kredit selanjutnya mengeluarkan peringkat yang sesuai untuk lembaga-lembaga tersebut, bukan peringkat menguntungkan palsu yang merupakan bagian dari persiapan menuju krisis.
Selama pemerintahan Trump
Undang-Undang Pertumbuhan Ekonomi, Pengurangan Regulasi, dan Perlindungan Konsumen yang ditandatangani pada tahun 2018 oleh Presiden Trump menanggapi kritik terhadap Dodd-Frank dan mencabut beberapa ketentuan di dalamnya. Antara lain, undang-undang ini mengecualikan bank dengan aset kurang dari $10 miliar dari persyaratan Aturan Volker, memberi konsumen kemampuan untuk membekukan berkas kredit mereka tanpa biaya, dan meringankan persyaratan modal untuk bank yang tidak menawarkan pinjaman atau layanan perbankan tradisional.
Apa Arti Spekulasi Wall Street?
Spekulasi merujuk pada tindakan berinvestasi dalam sekuritas yang memiliki profil risiko-imbalan tinggi dengan tujuan memperoleh keuntungan besar, meskipun ada risiko kerugian besar. Investor yang berspekulasi cenderung fokus pada fluktuasi harga. Mereka mungkin percaya bahwa pasar telah salah menetapkan harga suatu sekuritas dan mereka mencoba memanfaatkan perbedaan tersebut. Spekulan Wall Street cenderung merupakan pedagang profesional, berbeda dengan investor ritel yang membeli dan menyimpan saham atau aset lainnya untuk jangka panjang.
Jam berapa Wall Street buka dan tutup?
Bursa saham utama AS, termasuk NYSE dan Nasdaq, biasanya buka pukul 9:30 pagi hingga 4 sore waktu Eastern, Senin hingga Jumat. Namun, ada juga sesi perdagangan tambahan di awal dan akhir jam tersebut.
Perdagangan pra-pasar biasanya terjadi antara pukul 8:00 pagi dan 9:30 pagi, meskipun dapat dimulai seawal pukul 4 pagi EST.
Perdagangan di luar jam operasional dimulai pukul 4 sore dan dapat berlangsung hingga pukul 8 malam EST.
Apa itu Black Wall Street?
Black Wall Street adalah julukan yang diberikan kepada Distrik Greenwood di Tulsa, Oklahoma, salah satu komunitas bisnis Afrika-Amerika terbesar dan paling makmur di AS pada awal abad ke-20. Dari Mei hingga Juni 1921, 35 bloknya hancur selama Kerusuhan Ras Tulsa. Distrik ini dengan cepat dibangun kembali, dengan lebih dari 80 bisnis dibuka kembali pada tahun 1922. Secara lebih umum, Black Wall Street juga dapat merujuk pada area mana pun dengan aktivitas ekonomi atau keuangan Afrika-Amerika yang tinggi.1011
Bagaimana Cara Mendapatkan Pekerjaan di Wall Street?
Mendapatkan pekerjaan di Wall Street seringkali dimulai di perguruan tinggi. Jurusan seperti keuangan, administrasi dan manajemen bisnis, ekonomi, akuntansi, dan matematika sangat cocok untuk industri investasi. Perusahaan juga akan mempertimbangkan gelar di bidang lain, seperti pemasaran atau teknik. Cobalah untuk mendapatkan magang di perusahaan Wall Street atau lembaga serupa setidaknya selama satu musim panas. Gelar Master of Business Administration (MBA) juga dapat menarik bagi lembaga keuangan, begitu pula pengalaman di industri teknologi. Penting juga untuk menargetkan jenis pekerjaan Wall Street apa yang paling cocok untuk Anda. Pekerjaan tersebut dapat dibagi menjadi tiga area utama:
Tim Investasi: analis riset, manajer portofolio, dan pedagang
Operasional: hubungan klien, pemasaran, penilaian risiko, hukum, fungsi administrasi internal.
Penjualan: mereka yang terlibat dalam pembuatan, promosi, dan penjualan saham, obligasi, IPO, valuta asing, dan instrumen keuangan lainnya.
Intinya
Wall Street adalah jalan nyata sekaligus simbol. Di sana terdapat berbagai perusahaan keuangan dan investasi, serta lembaga-lembaga seperti Bursa Efek New York (NYSE) dan Bank Federal Reserve New York. Secara global, Wall Street telah menjadi simbol komunitas dan industri keuangan dan investasi AS, serta kepentingan, sikap, dan perilakunya.