Setelah tiga pemberi pinjaman ramah kripto di AS bangkrut bulan lalu, perusahaan kripto mendapati diri mereka berada dalam posisi genting saat mereka mencari mitra perbankan baru.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan regulator AS, yang khawatir akan potensi risiko yang terkait dengan pemusatan bisnis di lembaga keuangan yang lebih kecil.

Kejatuhan Silvergate Capital Corp, Signature Bank, dan Silicon Valley Bank telah mengakibatkan perusahaan kripto terpaksa beralih ke opsi perbankan alternatif, karena bank arus utama semakin skeptis terhadap klien mereka di industri kripto karena serangkaian kegagalan dan kekurangan yang besar. regulasi.

Peralihan ke lembaga keuangan yang lebih kecil untuk perusahaan kripto

Ketika pencarian mitra perbankan semakin intensif, perusahaan aset digital mencari lembaga keuangan yang lebih kecil untuk mendapatkan dukungan. Lembaga-lembaga yang lebih kecil ini, seringkali berada di wilayah keuangan global yang lebih terpencil, mengalami lonjakan permintaan dari pelanggan potensial.

Permintaan akan layanan mereka meningkat karena bank-bank besar semakin enggan bekerja sama dengan klien kripto, sebagian karena kekhawatiran tentang keamanan dan kesehatan model bisnis bank yang sangat berfokus pada klien kripto.

FV Bank di Puerto Rico, bank yang berfokus pada fintech berlisensi AS, melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah pertanyaan dari calon pelanggan dalam beberapa minggu terakhir.

Meskipun tidak diasuransikan oleh Federal Deposit Insurance Corp, FV Bank menarik perhatian dari perusahaan kripto karena spesialisasinya di sektor fintech.

Demikian pula dengan Bank Frick di Liechtenstein yang mengalami peningkatan signifikan dalam permintaan pembukaan rekening, dengan sebagian besar permintaan berasal dari perusahaan di Eropa, Singapura, dan Australia.

Kekhawatiran peraturan dan risiko konsentrasi

Peralihan perusahaan kripto ke lembaga keuangan yang lebih kecil menyebabkan regulator semakin khawatir tentang risiko konsentrasi yang terkait dengan perubahan tersebut.

Risiko ini memberikan harapan yang lebih besar kepada perusahaan-perusahaan kecil untuk menerapkan manajemen risiko dan prosedur pemantauan yang memadai, yang mungkin menjadi tantangan besar bagi lembaga-lembaga tersebut.

Nikki Johnstone, mitra di firma hukum Allen and Overy di London, menyoroti risiko konsentrasi sebagai masalah paling signifikan yang timbul dari berkurangnya opsi perbankan kripto yang tersedia.

Dia menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan kecil perlu memastikan bahwa mereka memiliki sistem manajemen risiko dan pemantauan yang diperlukan untuk mengatasi peningkatan permintaan.

Pendekatan hati-hati yang dilakukan bank-bank arus utama

Banyak bank papan atas, termasuk JPMorgan Chase dan Bank of New York Mellon, berhati-hati dalam pendekatan mereka dalam bekerja dengan klien kripto.

Meskipun mereka memelihara hubungan dengan beberapa perusahaan terpilih di industri ini, seperti Coinbase, mereka umumnya menolak calon pelanggan terkait kripto.

Keengganan bank-bank besar untuk bekerja sama dengan perusahaan kripto dapat dikaitkan dengan meningkatnya risiko pencucian uang di sektor ini dan kurangnya regulasi yang kuat.

Akibatnya, startup kripto yang lebih kecil merasa semakin sulit untuk mendapatkan mitra perbankan, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang ketersediaan opsi perbankan untuk usaha yang lebih kecil dan kurang terbukti.

Mengingat lanskap perbankan saat ini, perusahaan kripto kini harus menavigasi dunia kemitraan keuangan yang kompleks, berupaya mendapatkan dukungan dari lembaga keuangan yang lebih kecil sementara regulator terus menyatakan kekhawatiran tentang risiko konsentrasi.

Pergeseran ini juga dapat memicu diskusi lebih lanjut tentang perlunya regulasi dan pengawasan yang lebih kuat dalam industri kripto, karena hubungan antara perusahaan kripto dan mitra perbankan mereka menjadi semakin penting bagi kesehatan dan stabilitas pasar secara keseluruhan.