Paris kembali mendidih hari ini: 70 ribu personel militer dan polisi dikerahkan ke jalan untuk "menyambut" unjuk rasa, sementara rompi kuning langsung menyerukan "pembangkangan massal".

Serikat pekerja dan mahasiswa berunjuk rasa di pusat kota Paris hari ini, dengan slogan cuma dua kata—tak sanggup hidup.

Rompi kuning tidak ikut rombongan besar; mereka menggelar aksi sendiri dan bersikeras menuju Place de la Concorde—tempat itu dilarang, tapi mereka tetap pergi.

Menteri Dalam Negeri Nunez mengerahkan 70 ribu polisi untuk berjaga di seluruh negeri, bahkan berkata, "Kalau ada perusuh dan penjarah, kami siap."

Menurut saya, kalimat itu terbalik: 70 ribu polisi itu sebenarnya menjaga siapa—perusuh atau daftar harga?

Pada Kamis, ratusan ribu orang turun ke jalan, 642 orang ditangkap; aksi 17 Oktober itu merupakan kerusuhan paling parah di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

Tuntutan serikat pekerja juga tidak banyak: naikkan upah minimum—yang tidak pernah benar-benar naik sejak 2012—ditambah kenaikan upah secara menyeluruh, reformasi pajak, dan perbaikan kesejahteraan mahasiswa.

Namun pemerintah juga tidak punya uang; ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa itu terlilit utang.

Yang lebih menusuk adalah waktunya: kurang dari setengah tahun menuju pemilu, dan kelompok ekstrem kanan unggul dalam jajak pendapat.

Perdana menteri mengatakan akan membahas upah pada Senin—membahasnya Senin, tapi Sabtu lebih dulu menghalangi orang; warga Paris sudah hafal pola ini.

Sebuah kota, 70 ribu polisi tak bisa mengendalikan harga, tetapi bisa menjaga alun-alun.

Jadi, ini sebenarnya masalah ketertiban umum atau masalah pembukuan?

Kamu berpihak ke mana: naikkan upah dulu, atau tenangkan jalanan dulu?

Protes Prancis Rompi Kuning
#法国抗议 #RompiKuning