Pasar valas global mencatat pemulihan USD dan kinerja mata uang yang beragam pada pekan 2–7 November 2026
💵 USD pulih setelah awalnya melemah saat Partai Demokrat memenangkan kendali Kongres. Data ketenagakerjaan yang kuat dan permintaan aset aman membantu dolar mengatasi tekanan awal akibat hasil pemilu.
📊 Jumlah tenaga kerja AS di luar sektor pertanian pada Oktober naik 165.000, melampaui perkiraan 65.000, sementara pengangguran berada di 4,1% dan upah meningkat 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Desember, sehingga mendukung imbal hasil Treasury dan USD.
🏦 BoE dan RBA masing-masing menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menjadi 4% dan 4,85%. Pound sterling gagal mempertahankan kenaikannya, sementara AUD tertekan oleh sentimen penghindaran risiko. Ini menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga saja tidak menjamin penguatan mata uang.
📉 Aksi jual saham teknologi mendukung permintaan terhadap USD, JPY, dan CHF saat pasar mengalami tekanan. Namun, yen melemah terhadap dolar menjelang akhir pekan setelah rilis data tenaga kerja, yang menyoroti pengaruh ekspektasi suku bunga AS.
🛢️ Harapan akan pembicaraan AS–Iran mendorong harga minyak turun, meredakan ekspektasi inflasi energi dan memberi bank sentral lebih banyak ruang untuk meninjau kembali pengetatan kebijakan. Perkembangan di sekitar Hormuz membuat prospek tetap tidak pasti, dengan dampak yang berbeda bagi negara pengekspor dan pengimpor minyak.
🌏 Di Asia, KRW dan TWD tertekan oleh penurunan saham semikonduktor dan arus portofolio asing, sementara INR dan PHP berkinerja lebih baik. Perbedaan ini menyoroti pengaruh arus investasi saham dan eksposur terhadap energi pada mata uang.
🗓️ Perhatian kini beralih ke CPI AS pada 10 November dan PPI pada 13 November. Inflasi yang lebih tinggi dapat terus menopang USD, sementara data yang lebih rendah atau meredanya ketegangan energi dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut.
#ForexInsights $HYPE
💵 USD pulih setelah awalnya melemah saat Partai Demokrat memenangkan kendali Kongres. Data ketenagakerjaan yang kuat dan permintaan aset aman membantu dolar mengatasi tekanan awal akibat hasil pemilu.
📊 Jumlah tenaga kerja AS di luar sektor pertanian pada Oktober naik 165.000, melampaui perkiraan 65.000, sementara pengangguran berada di 4,1% dan upah meningkat 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Desember, sehingga mendukung imbal hasil Treasury dan USD.
🏦 BoE dan RBA masing-masing menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menjadi 4% dan 4,85%. Pound sterling gagal mempertahankan kenaikannya, sementara AUD tertekan oleh sentimen penghindaran risiko. Ini menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga saja tidak menjamin penguatan mata uang.
📉 Aksi jual saham teknologi mendukung permintaan terhadap USD, JPY, dan CHF saat pasar mengalami tekanan. Namun, yen melemah terhadap dolar menjelang akhir pekan setelah rilis data tenaga kerja, yang menyoroti pengaruh ekspektasi suku bunga AS.
🛢️ Harapan akan pembicaraan AS–Iran mendorong harga minyak turun, meredakan ekspektasi inflasi energi dan memberi bank sentral lebih banyak ruang untuk meninjau kembali pengetatan kebijakan. Perkembangan di sekitar Hormuz membuat prospek tetap tidak pasti, dengan dampak yang berbeda bagi negara pengekspor dan pengimpor minyak.
🌏 Di Asia, KRW dan TWD tertekan oleh penurunan saham semikonduktor dan arus portofolio asing, sementara INR dan PHP berkinerja lebih baik. Perbedaan ini menyoroti pengaruh arus investasi saham dan eksposur terhadap energi pada mata uang.
🗓️ Perhatian kini beralih ke CPI AS pada 10 November dan PPI pada 13 November. Inflasi yang lebih tinggi dapat terus menopang USD, sementara data yang lebih rendah atau meredanya ketegangan energi dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut.
#ForexInsights $HYPE
