Duan Yongping

(Duan Yongping memecah BBK, jangan ingat kutipan palsu itu)

Mengenai pemecahan BBK oleh Duan Yongping, beredar di internet sebuah “pesan perpisahan” yang sangat dramatis: “Kalau berhasil, bagi-bagi uang; kalau gagal, tutup saja. Jangan merasa tertekan.”

Kalimat ini terdengar seperti kutipan bijak tentang manajemen, tetapi bukan fakta sejarah yang dapat dipercaya. Dalam tanggapan publik pada 2020, Duan Yongping berkata: “Saya tidak pernah mengatakan hal itu, dan tidak pernah ada momen seperti itu sebelum saya pergi.” Ia juga menambahkan bahwa meskipun tidak lagi mengurus operasional, ia masih menyandang jabatan direktur utama BBK selama beberapa tahun.

Mari kesampingkan dulu kutipan palsu itu; langkah yang diambil pada 1999 justru lebih menarik untuk dicermati.

Menurut pemberitaan sejarah yang tersedia untuk umum, BBK dibagi berdasarkan lini bisnis menjadi tiga perusahaan independen: Huang Yihe bertanggung jawab atas elektronik pendidikan, kemudian digantikan oleh Jin Zhijiang; Chen Mingyong bertanggung jawab atas elektronik audio-visual; dan Shen Wei bertanggung jawab atas teknologi komunikasi. Ketiga lini bisnis itu masing-masing meneruskan sistem yang sudah ada. Personel dan tanggung jawab operasional mengikuti lini bisnisnya, kepemilikan saham masing-masing berdiri sendiri, dan tidak ada hubungan subordinasi ant perusahaan. Dengan demikian, bidang pendidikan, audio-visual, dan komunikasi tak perlu lagi berdebat soal prioritas sumber daya di bawah satu kantor pusat yang sama; masing-masing dapat mengambil keputusan sesuai irama pengembangan produknya.

Ini bukan sekadar mengganti satu papan nama menjadi tiga. Yang benar-benar dibagi ulang adalah wewenang pengambilan keputusan, tanggung jawab, dan kepentingan. Siapa yang paling dekat dengan produk dan pasar, dialah yang harus bertanggung jawab atas hasil bisnis. Para penanggung jawab tidak hanya diberi ucapan, “Silakan coba,” tetapi juga wewenang operasional yang relatif utuh.

Ulasan media juga menyebut bahwa Duan Yongping memegang sekitar 10% saham di masing-masing dari ketiga perusahaan itu, dan pada masa awal mereka pernah menggunakan nama BBK bersama serta memanfaatkan jaringan distribusi lama yang mencakup sekitar 80%. Ini adalah keterangan sebagaimana dilaporkan media; tidak tepat jika diperluas seolah-olah masih demikian hingga saat ini, apalagi jika proses perubahan korporasi yang rumit disederhanakan menjadi “berganti nama pada hari yang sama”. OPPO, vivo, dan lini bisnis terkait memiliki hubungan kesinambungan historis, tetapi merek, perusahaan, dan perkembangan selanjutnya masing-masing memiliki proses tersendiri. Jangan menghapus kerumitan itu hanya demi membuat ceritanya tampak rapi.

Pemisahan ini sering diceritakan sebagai tindakan melepas dengan lapang dada. Padahal, dalam pendelegasian wewenang, yang paling harus dihindari adalah sekadar melepas dengan lapang dada. Jika bisnis diserahkan tetapi batas wewenangnya tetap kabur, penanggung jawab akan sulit benar-benar memikul tanggung jawab. Ketika kepentingan juga dipisahkan dengan jelas, barulah tim tahu untuk siapa mereka bekerja dan siapa yang menanggung risikonya. Setelah pemisahan, para pengelola tidak lagi berhadapan dengan penilaian dari kantor pusat lama, melainkan dengan produk, jaringan distribusi, dan arus kas perusahaan mereka sendiri. Tanggung jawab menjadi lebih dekat, dan insentif pun memiliki pijakan.

Duan Yongping sendiri membantah adanya situasi “menjelang pergi”, sekaligus mengingatkan kita bahwa perubahan organisasi jarang terjadi dalam satu momen yang penuh gaya. Jabatan, jaringan distribusi, merek, dan kepemilikan saham bisa memiliki tahapan transisi masing-masing.

Saat melihat pemisahan seperti ini, jangan buru-buru menghafal kutipan terkenal. Perhatikan dulu siapa yang mengikuti urusan apa, bagaimana kepemilikan saham diatur, lalu siapa yang mengambil keputusan akhir dan siapa yang menanggung hasilnya. Yang benar-benar memengaruhi perjalanan perusahaan setelahnya bukanlah kalimat dalam cerita, melainkan pembagian tugas yang tidak mencolok ini. Hal yang sama berlaku bagi investor: ketika menghadapi pemisahan atau pendelegasian wewenang, jangan hanya melihat betapa indahnya kata-kata pendiri; periksa bagaimana rantai pengambilan keputusan yang baru benar-benar berjalan.